Berbakti
Usia
masih muda tentu masih banyak keinginan. Ingin bekerja, ingin mencari
pengalaman, ingin punya penghasilan sendiri, dan ingin menikmati masa muda
sepuas-puasnya. Hal-hal seperti ini yang ingin aku jalani pada masa muda.
Namun, terkadang keinginan anak tak sejalan dengan keinginan orang tua.
Tanpa
sepengetahuanku, ayah menjodohkan aku dengan pria yang tak kukenal sebelumnya.
Menurut ayah, pria itu anak bosnya di kantor. Alasan apa yang melatari
perjodohan ini aku tidak tahu. Sebagai anak perempuan aku hanya pasrah dan
patuh. Kata ‘berbakti’ mendadak muncul yang lantas memupuskan harapan dan
keinginan merenda masa muda. Sejujurnya aku belum siap menikah!!
Ternyata
selama ini ayah menyimpan sakitnya dan kini perlu operasi untuk penyembuhan.
Harapan memperoleh uang operasi apabila aku mau dinikahi anak bos yang tajir
itu. Kata ayah, sejak melihat aku pertama kali, Hendra –anak Pak Bos- sudah
jatuh cinta padaku. Ia minta izin boleh menikahiku setelah aku lulus kuliah.
Percuma saja ayah mengatakan kepada Mas Hendra kalau aku masih ingin mencari
pengalaman. Jawabannya selalu sama, “Bersama saya akan banyak pengalaman yang
terjadi. Bapak boleh buktikan nanti!”
Melihat wajah sakit bapak mempertebal keyakinanku untuk berbakti
padanya. Menikah muda, meninggalkan impian masa muda. Meniti hari-hari bersama
pria asing!
***
Wangi
Keikhlasan
Kota
Malang jadi saksi kepergian orang yang sangat kusayangi untuk selama-lamanya. Kecelakaan itu telah merenggut nyawanya. Aku harus ikhlas. Semua ini sudah suratan takdir-Nya. Sejatinya, hatiku rapuh dan hancur melihat
kenyataan ini.
Hari-hari
berlalu sepi setelah kepergiannya. Kenangan
bersamanya membuat hatiku semakin
rapuh tak berdaya. “Relakan dan
ikhlaskan suamimu, percayalah Allah sangat menyayanginya,” begitu yang selalu ibu ucapkan untuk
menguatkan hatiku. Melihat keadaan ini, orang tuaku mengajak pulang ke kampung
halaman, tinggal bersama
mereka.
Sebulan berselang setelah kepergian suamiku, ada petugas
berseragam mendatangi rumah orang tuaku. Ia menyerahkan sebuah surat panggilan.
Kubuka perlahan dan membaca isinya. Mendadak tanganku bergetar, air mata tak
kuasa kubendung. Isi surat menyatakan sebagai ahli waris aku akan menerima
pencairan asuransi jiwa atas nama suamiku. Jumlahnya fantastis, satu milyar
rupiah. Diam-diam selama ini, selama hidupnya, suamiku beriur premi asuransi
jiwa tanpa pernah aku tahu. Ya Allah..,
raungku dalam hati. Sudah tiada pun, ia tetap memikirkan masa depan kami...
***
Dunia
Tempat
Capek
Dunia
merupakan ladang amal, bekal menuju akhirat. Tak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa menemui
rintangan dan jalan terjal. Mereka sering berkeluh-kesah ‘sungguh capek’ menghadapi persoalan dunia. Ada yang menangis, bahkan meronta-ronta atas keadaan yang tak diinginkan. Namun tak jarang, banyak juga yang tertawa
terbahak-bahak tanpa menghiraukan lainnya. Dunia memang panggung sandiwara!
Manusia
yang berakal dan beriman tentu punya cara menyikapi hidup di dunia fana ini. Waktu yang diberikan Tuhan dipergunakan untuk beribadah
dan beramal salih sebagai bekal
di alam keabadian kelak. Manusia yang merasa dunia ‘tempat capek’ berarti belum mensyukuri pemberian Tuhan.
Janji Allah itu pasti indah! Pasti tanpa ada keraguan
sama sekali. Nikmati semua pemberian-Nya dengan qanaah, rajin bersyukur, dan
terus tingkatkan amal saleh selama hidup di dunia. Capek dan berpeluh-peluh di
dunia itu hal biasa. “Dunia emang tempat capek! Kalo ente-ente pade kagak mau
capek, pulang duluan noo! Mau kagak pulang duluan?” ujar Ustaz Babe Ahye dengan
logat Betawinya yang kental. Ia pun mengakhiri tausiah di radio Amanah FM yang
selalu kudengarkan setiap habis subuh.
***
Bertaubatlah
Semua
santri sudah berkumpul di masjid untuk menerima tausiyah dari pak ustaz pada Jumat pagi itu. Sebelum tausiyah dimulai, ustaz selalu mengabsen para
santrinya. Dia lagi yang tak hadir,
gumam pak ustaz. Ia pun menyampaikan kepada para santrinya akan membahas
‘taubat nasuha’. Keduanya langsung siap mengaji dan mengkaji.
Dalam tausiahnya pak ustaz mengatakan tak seorang pun di
dunia ini yang terlepas dari kesalahan dan dosa. Sebagai manusia ciptaan-Nya,
harus segera mohon ampun bila melakukan kesalahan, karena Allah itu Maha
Pengampun. Dia akan mengampuni kesalahan hamba-Nya jika benar-benar bertaubat,
serta berjanji takkan mengulangi kesalahan yang sama. Tausiahnya terjeda,
karena melihat ada santri di belakang yang mengacungkan jari.
Setelah berucap salam, santri tadi bertanya apakah hanya
kesalahan yang sama yang dihapuskan dosanya! Bagaimana dengan kesalahan yang
tak sama? Pak ustaz menyadari kekeliruannya tadi. Selagi ia hendak mengoreksi
tausiyahnya, mendadak ada teriakan ‘assalamualaikum’
dari pintu masjid. Seorang santri tergopoh-gopoh mendekatinya dan mencium
tangannya. “Maafkan saya Ustaz, saya mengulangi kesalahan yang sama. Selalu
terlambat hadir saat kajian dimulai.”
Gelak tawa terdengar dalam masjid. Bukannya marah, pak ustaz justru
merangkul, lalu mengelus kepala santri yang dikiranya tak hadir. Kalau Allah
saja Maha Pemaaf, masa ustaz tak memaafkan temanmu yang rajin terlambat
mengikuti kajian, ujarnya bijak. Tawa para santri terdengar lagi.
***