Gemercik hujan menghentikan langkahku tuk beraktifitas di luar rumah. Suara kambing dari kejauhan terdengar mengembik seolah merasakan dinginnya pagi tanpa sentuhan sinar mentari dan meminta sebakul rumput sebagai jatah sarapan pada tuannya. Rukuh yang membalut dan menghangatkanku belum kulepas setelah silaturahim dengan sahabat-sahabat langitku di ruang zoom komunitas tuk memaknai hidup dengan kajian-kajian ilmu samawi. ...next jalani peran sebagai ratu di kerajaan sangkar emasku dan "al ummu madrasatul uulaa" bagi anak semata wayangku.
A- Z telah menanti sentuhan seorang ibu tapi dinginnya pagi ini begitu menusuk. What can I do the first? atau haruskah aku berlindung di balik dekapan kehangatan bulu polar bearku yang selembut sutra. Tapi pilihan pagi ini hanya 2, lanjutkan mimpi atau wujudkan mimpi? Tetap saja semangatku tak terpantik. What's wrong?
Angin pagi begitu menusuk sampai ke sumsum tulang. Setiap helai kesuma yang selalu mengharapkan sapa kehangatan dari sang mentari pagi tak lagi menampakkan pesonanya. Mereka hanya tertunduk menahan terpaan rinai hujan. Burung-burung kecil yang biasa berceloteh menantang langit biru untuk menatap kebesaran Sang Pencipta dan mulai belajar bertawakkal demi mempertahankan hidup sesuai dengan instink yang telah dianugerahkan dari Sang Pemberi hidup dan kehidupan, kini hanya berlindung dalam dekapan hangat bulu sang induk di dalam sarang yang tertata apik.
Kabut sutera yang masih menyelimuti bumiku membuatku enggan beranjak dan hanya bertemankan laptop. Tik-tak bunyi tuts-tuts huruf memecah keheningan, meramaikan suasana hati bersama celotehan ide yang mengajak jemariku tuk menari-nari memainkan setiap kotak yang kurangkai menjadi paragraph keakuan dalam untaian tasbih pagi.
Kuhirup angin pagi dengan segenap rasa syukur akan nikmat sehat, panjang umur dan sejuta nikmat lainnya yang tidak mungkin bisa kuhitung. Pantaskah aku mengeluh atas ujian hidup yang kuhadapi? Tentu saja tidak. Hidup tak boleh flashback karena waktu tak berputar mundur. Tatap masa depan dengan penuh optimis. Dalam sisa episode yang harus kuperani dengan warna-warni yang selalu memberikan corak dan ragam takdir yang selalu menyertai. Teriring do'a di setiap hembusan nafas, kedipan mata dan denyut nadi sebagai anugerah yang tak terhingga yang masih bisa berjalan mengikuti titah-Nya.
Perang dingin antara hasrat dan tantangan yang tak bisa berkompromi terkadang membuatku bersikap apatis dan menemui jalan buntu. Tiada lagi tempatku berlindung dan mencari jalan kembali selain kepada-Mu yaa Rabb. Kuberserah diri atas shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semua hanya di tangan-Mu. Tiada yang sulit saat Kun-Mu berbicara dan aku hanya bisa takjub dengan keajaiban yang terjadi.
اِنَّمَآاَمْرُهٗٓ اِذَااَرَادَشَيْأًاَنْ يَّقُوْلَلَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendki sesuatu hanyalah berkata,"Jadilah!", maka terjadilah ia.(Q.S. Yȃsīn :82).
Seorang ibu haruslah kuat, be a wonderwomen. Hanya putera-puteri yang sholeh dan sholehah yang menjadi pemantik dan penyemangat hidup, sebagai investasi akhirat. Semoga mereka terbentuk sebagai pribadi yang "birrul walidain" .
Teruntai dalam do'a :
رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Ya Tuhan kami,anugerahkanlah kepada kami, pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".
اٰمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
