بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
AL-QARI'AH, MAKIYYAH, SURAT KE-101
اَلْقَارِعَةُ(١) مَاالْقَارِعَةُ(٢) ومَآادْرٰیكَ مَاالْقَارِعَةُ(٣) يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ(٤)وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ(٥) فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ(٦) فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ(٧) وَاَمَّامَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ(٨) فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ(٩) وَمَآاَدْرٰیكَ مَاهِيَةُ(١٠) نَارٌحَامِيَة(١١)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1. Hari Kiamat,
2. Apakah hari Kiamat itu?
3. Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,
5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)
8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Para ulama sepakat bahwasannya surat al-Qari'ah adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah ke kota Madinah. Sebagaimana topik pembicaraan dalam surat ini yang berkaitan tentang hari yang sangat dahsyat yaitu hari Kiamat, yang ditujukan untuk kaum musyrikin Arab yang mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari Kiamat.
Surat al-Qari'ah berkaitan dengan surat al-'Adiyat karena sama-sama berbicara tentang kejadian yang akan berjalan pada hari Kiamat. Allah akan mengeluarkan seluruh apa yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia.
Al-Qari'ah merupakan salah satu nama dari nama-nama hari Kiamat karena nama-nama hari Qiyamat sangat banyak, diantaranya adalah :
1. يَوْمُ الْقِيَامةِ yang diambil dari kata قِيَامٌ yang artinya berdiri. Hal ini karena pada hari Kiamat di padang Mahsyar semua manusia akan berdiri. Mereka berdiri dalam waktu yang lama menantikan kedatangan Allah untuk memulai persidangan.
2. اَلصَّآخَّةُ artinya suara yang sangat keras dan memekakan telinga sehingga membuat orang binasa ketika itu, sebagaimana Allah berfirman
فَإِذَاجآءَتِ الصَّآخَّةُ "Maka apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua)" ( Q.S. 'Abasa : 33).
3.اَلطَّآمَّةُ (bencana besar), yaitu sebuah bencana yang meliputi segala sesuatu sehinga tidak ada yang selamat dari bencana tersebut.
4. اَلغَاشِيَةُ (menutup), karena bencana tersebut menutupi dan meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang terkecualikan.
5. يَوْمُ الْحِسَابِ (hari perhitungan), karena manusia seluruhnya akan disidang pada hari tersebut dengan persidangan sangat ketat. Tidak ada yang bisa berlari dari persidangan Allah.
6. يَوْمُ الدِّيْنِ (hari pembalasan), karena semua amalan manusia kelak akan dibalaskan. Di dunia yang ada hanyalah amal, namun di akhirat yang ada hanyalah pembalasan dan tidak ada lagi amal.
7. يَوْمُ الْمِيْزَانِ (hari pertimbangan), karena di akhirat kelak amalan manusia akan ditimbang. Manakah yang lebih berat, apakah kebaikan atau keburukan? Sebagaimana akan disinggung di akhir surat al-Qari'ah.
8. اَلْقَارِعَةُ (ketukan keras), yaitu dahsyatnya hari Qiyamat yang mengetuk dan menakutkan hati manusia.(Tafsir at-Thabari 24/ 592)., karena orang yang menghadiri hari Kiamat semuanya pasti ketakutan dengan ketakutan yang sangat dahsyat.
Sebagaimana yang Allah SWT gambarkan di dalam al-Qur'an tentang kengeriannya, Allah berfirman :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْارَبَّكُمْ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْئٌ عَظِيْمٌ(١) يَوْمَ تَرَوْنَهَاتَذْهُلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآاَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَاوَتَرَی النَّاسَ سُكٰرٰی وَمَاهُمْ بِسُكٰرٰی وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ (٢)
1. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
2. Ingatlah pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (Q.S. Al-Hajj/ 22 : 1 - 2)
Semua itu disebabkan karena kedahsyatan neraka Jahannam. Allah juga menggambarkan tentang ketakutan orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan. Allah berfirman :
يَوْمَ يُنْفَخُ فِی الصُّوْرِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِيْنَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا
(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. (Q.S. Tāhā/ 20 : 102)
Karena ketakutan yang amat sangat, membuat mereka pucat berlebihan sampai tubuh mereka menjadi berwarna biru. Demikianlah Allah gambarkan juga kejadian pada hari kiamat dalam firman :
فَاِذَاجَآءَتِ الصَّآخَّةُ (٣٣) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ (٣٤) وَاُمِّهِ وَاَبِيْهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيْهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ (٣٧)
33.Dan jika suara keras yang memekakkan telinga telah terjadi pada hari kiamat,
34. hari ketika seseorang menghindar dari saudara,
35. Dari ibu dan bapaknya
36 dari istri, dan anak-anaknya,
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Pada ayat di atas Allah SWT menyebutkan orang-orang terdekat dari seseorang seperti saudaranya, ibunya, ayahnya, isteri dan anak-anaknya semuanya tidak akan peduli bahkan keluarganya sendiri akan meninggalkannya, karena semua orang pada hari itu sibuk dengan urusannya, sehingga Allah SWT menamakannya dengan hari yang menakutkan hati.
Pada ayat tersebut Allah SWT hanya menyebutkan اَلْقَارِعَةُ sebagai Mubtada tetapi tidak menyebutkan Khabarnya, yang akan melengkapinya. Ini adalah salah satuuslub untuk menunjukkan akan dahsyatnya sesuatu seakan-akan Allah SWT ingin mengatakan bahwa hari Kiamat itu sudah dekat dan sungguh akan terjadi hari Kiamat itu.
Allah kembali menyebutkan kata yang sama sebagai bentuk penguatan. Ini adalah pertanyaan dengan tujuan pengagungan terhadap perkara hari Kiamat. Allah ingin menekankan dan menjelaskan bahwasannya hari itu adalah hari yang sangat dahsyat.
Allah kembali mengulanginya dan kembali menekankannya bahwasannya hari itu benar-benar dahsyat. Metode pengulangan seperti ini dapat dijumpai dalam ayat lain, contohnya :
وَمَآاَدْرٰكََ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ(١٧) ثُمَّ مَآاَدْرٰكَ مَايَوْمُ الدِّيْنِ(١٨)
"Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Q.S. al-Infitār/82 : 17-18)
Setelah Allah SWT mengulang-ulang penyebutannya, kemudian menjelaskan tentang hal hal tersebut.
Manusia pada hari itu keluar dari kuburnya dalam keadaan bingung, ketakutan menyaksikan dahsyatnya hari Kiamat. Mereka bingung sebagaimana saat kita melihat laron di malam hari yang bertebaran, bertumpuk-tumpuk tidak tentu arahnya. Bahkan ketika ada api, maka laton-laron tersebut segera berebutan untuk berjatuhan menuju api yang membakar mereka, ini semua karena kebingungan dan tak paham (lihat tafsir as-Sa'adii hal. 933)
Maka kira-kira demikian kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Allah juga memisalkannya dengan bentuk yang lain, Allah berfirman :
خُشَّعًااَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌمُّنْتَشِرٌ(٧)
"Pandangan mereka tertunduk ketika mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (Q.S al-Qamar/54 :7)
اَلْعِهْنُ dalam bahasa Arab adalah bulu-bulu yang diambil dari hewan yang biasa diambil untuk ditenun peperti kain wol. Apabila kita mengambil bulu-bulu tersebut kemudian kita buang atau pukulkan pada sesuatu maka dia akan bertebaran, mudah tertiup oleh angin. Demikianlah kondisi gunung-gunung pada hari Kiamat.
Gunung yang ada di dunia ini akan mengalami beberapa kejadian. Ada beberapa tahapan, tahapan pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut kemudian menerbangkannya. Alah SWT berfirman :
(٨٨) اِنَّهٗ خَبِيْرٌبِمَاوَتَرَی الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيئتَفْعَلُوْنَ
"Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha teliti apa yang kamu kerjakan." (An-Naml/27 : 88)
Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا(٢٠)
"Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. (Q.S. an-Naba/78 : 20)
Kemudian Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut dan membenturkannya dengan bumi. Allah SWT berfirman :
وَحُمِّلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةً(١٤) فَيَوْمَئِذٍوَّقَعَتِ الْوَاقِعَةُ(١٥)
(14).Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. (15). Maka pada hari itu terjadilah hati Kiamat.
Allah SWT berfirman dalam ayat lain :
وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا(٥) فَكَانَتْ هَبَآءًمُّنْبَثًّا(٦)
(5) dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya,
(6) maka jadilah dia debu yang beterbangan.
Demikianlah keadaan gunung pada hari Kiamat yang tadinya kokoh, kemudian dihancurkan oleh Allah SWT menjadi seperti debu yang beterbangan.
Maka Allah SWT berfirman :
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّی نَسْفًا(١٠٥) فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (١٠٦)لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًۭا وَلَآ أَمْتًا(١٠٧)
(105) Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya(di hari Kiamat) sehancur-hancurnya,
(106) maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,
(107) tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi".
Bumi yang kita tempati sekarang ini adalah bumi yang bulat. Namun pada hari Kiamat kelak semua akan dirubah oleh Allah SWT menjadi datar untuk dijadikan padang mahsyar sebagai tempat berkumpulnya manusia dari awal sampai akhir dunia. Di padang mahsyar semua manusia akan melalui hari yang namanya Yaumul Hisab yaitu hari perhitungan. Setelah itu baru kemudian manusia akan menjumpai Yaumil Mizan yaitu hari penimbangan.
Ahlussunnah wal jama'ah mengimani akan adanya mizan (timbangan) yang akan Allah SWT hadirkan pada hari Kiamat. Hanya saja terdapat ikhtilaf di antara para ulama apakah mizan tersebut hanya satu atau banyak. Zhahir ayat menunjukkan bahwasannya mizan itu ada banyak karena datang dalam bentuk jamak (banyak). Hal ini dijumpai dalam firman Allah SWT :
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَاتُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْأً وَّاِنّْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَابِهَا وَكَفٰی بِنَاحَاسِبِيْنَ (٤٧)
"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (Q.S. al-Anbiya/21 : 47)
Namun terkadang pula mizaan datang dalam bentuk mufrad (tunggal) seperti hadits nabi :
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ تَمْلَأُ الْمِيْزَانَ
"Kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan (H.R. Muslm no. 223)
Pada hari Kiamat kelak akan ada 3 perkara yang ditimbang yaitu : (1) amalan shalih; (2) pemilik amalan itu sendiri; (3) buku catatan amal.
Tentang amalan shalih maka ada banyak dalil yang menunjukkan akan ditimbangnya hal tersebut, seperti hadits Nabi :
مَامِنْ شَيْئٍ اَثْقَلُ فِی الْمِيْزَا مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada suatu yang lebih berat di timbangan daripada akhlak mulia". (H.R. Abu Daud no. 4799).
Berdasarkan hadits di atas, sebagian ahli bid'ah mengingkari adanya timbangan yang hakiki. Mereka menyangkal dan menganggap tidak mungkin amalan itu bisa ditimbang karena amalan adalah sesuatu yang abstrak. Sehingga mereka mengatakan bahwa timbangan itu hanyalah majas/kiasan.
Padahal Allah Maha Kuasa mengubah segala sesuatu menjadi mudah, apakah mengubahnya menjadi sesuatu yang konkret atau terserah Allah bagaimana. Demikian pula dengan kematian. Kematian adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi di akhirat kelak Allah akan mendatangkan dalam bentuk kambing yang disembelih di antara surga dan neraka yang menunjukkan tidak adanya lagi kematian setelah itu. Begitu pula dengan amalan keburukan yang akan mendatanhi pelakunya di alam barzakh dalam bentuk yang sangat mengerikan.
Yang kedua yang akan ditimbang adalah pemilik amalan shalih itu. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits tentang sahabat yang memiliki betis yang kurus.
Suatu ketika hendak bersiwak, Nabi menyampaikan kepada Abdullah Ibnu Mas'ud atas keinginan Nabi tersebut. Abdullah Ibnu Mas'ud naik di atas sebuah pohon yang rantingnya digunakan untuk bersiwak, tiba-tiba tertiup angin dan menyingkap pakaian Abdullah Ibnu Mas'ud dan terlihat betis beliau yang sangat kecil. Spontan para sahabat yang bersama dengan Nabi pada waktu iyu mereka tak sengaja melihat dua betis Abdillah Ibnu Mas'ud kemudian menertawainya dan Nabipun marah dengan sikap sebagaian sahabat yang menertawai betis Abdullah Ibnu Mas'ud, beliau menengok kepada sahabat yang tertawa dan mengatakan :"kenapa kalian tertawa", mereka berkata:"Wahai Nabi Allah karena kedua betisnya yang kurus(sehingga ia tergoyang karena tertiup angin). Nabi berkata :"demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud. (HR. Ahmad no. 3991).
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
اِنَّهٗ لَيَأْتِی الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَايَزِنُ عِنْدَ اللّٰهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ
"Sungguh pada hari Kiamat akan datang seorang yang gemuk namun timbangannya di sisi Allah tidak melebihi berat sayap seekor nyamuk." (HR. Bukhari no. 4729 dan Muslim no. 2785).
Kemudian Nabi membacakan firman Allah :
فَلاَنُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
"Dan Kami tidak menilai timbangan mereka samasekali pada hari kiamat." (Q.S. al-Kahfi : 105)
Ini dalil bahwasannya manusia sebagai pelaku amalan shalih itu juga akan ditimbang pada hari Kiamat.
Yang ketiga yang akan ditimbang adalah catatan amalnya sebagaimana dalam sebuah hadits yang masyhur yang dikenal dengan nama hadits bithaqah tentang kisah pelaku maksiat yang meninggal dalam keadaan bertauhid kemudian dimaafkan dosa-dosanya.
Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًامِنْ اُمَّتِی عَلَی رُءُوْسِ الْخَلَآئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّاكُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُوْلُ لَهٗ اَتُنْكِرُ مِنْ هٰذَا شَيأً؟ اَظَلَمْتُكَ كَتَبَتِی الْحَافِظُوْنَ؟ قَالَ : لَايَارَبِّ،فَيَقُوْلُ : اَلَكَ عُذْرٌ اَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ فَيَقُوْلُ : لَايَارَبِّ فَيَقُوْلُ : بَلَی اَنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ فَتُخْرَجُ لَهٗ بِطَاقَةٌ فِيْهَااَشْهَدُ اَن لَآاِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ فَيَقُوْلُ : اَحْضِرُوْهُ فَيَقُوْلُ : يَارَبِّ مَاهٰذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هٰذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ : اِنَّكَ لَاتُظْلَمُ قَالَ: فَتَُوْضَعُ السِّجِلَّاتُ فِی كَفَّةٍ قَالَ : فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ وَلَا يَثْقُلُ شَيْئٌ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memilih seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat. Lalu dibukakan kepadanya 99 catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : "Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal itu? Apakah pencatatanku (malaikat) itu telah menzhalimimu? Orang itu berkata : "tidak wahai Tuhanku", Allah berfirman : "apakah engkau mempunyai udzur atau alasan atau mempunyai kebaikan? Orang itupun tercengang dan berkata : "tidak wahai Rabb". Dikatakan sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi". Nabi SAW bersabda : lalu diletakkanlah catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan ituringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat daripada. Tidak ada sesuatupun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
(HR. Ahmad 6994. Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ