Dianjurkan untuk Memperbagus Kain Kafan
“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
AL-QARI'AH, MAKIYYAH, SURAT KE-101
اَلْقَارِعَةُ(١) مَاالْقَارِعَةُ(٢) ومَآادْرٰیكَ مَاالْقَارِعَةُ(٣) يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ(٤)وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ(٥) فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ(٦) فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ(٧) وَاَمَّامَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ(٨) فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ(٩) وَمَآاَدْرٰیكَ مَاهِيَةُ(١٠) نَارٌحَامِيَة(١١)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1. Hari Kiamat,
2. Apakah hari Kiamat itu?
3. Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,
5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)
8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Para ulama sepakat bahwasannya surat al-Qari'ah adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah ke kota Madinah. Sebagaimana topik pembicaraan dalam surat ini yang berkaitan tentang hari yang sangat dahsyat yaitu hari Kiamat, yang ditujukan untuk kaum musyrikin Arab yang mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari Kiamat.
Surat al-Qari'ah berkaitan dengan surat al-'Adiyat karena sama-sama berbicara tentang kejadian yang akan berjalan pada hari Kiamat. Allah akan mengeluarkan seluruh apa yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia.
Al-Qari'ah merupakan salah satu nama dari nama-nama hari Kiamat karena nama-nama hari Qiyamat sangat banyak, diantaranya adalah :
1. يَوْمُ الْقِيَامةِ yang diambil dari kata قِيَامٌ yang artinya berdiri. Hal ini karena pada hari Kiamat di padang Mahsyar semua manusia akan berdiri. Mereka berdiri dalam waktu yang lama menantikan kedatangan Allah untuk memulai persidangan.
2. اَلصَّآخَّةُ artinya suara yang sangat keras dan memekakan telinga sehingga membuat orang binasa ketika itu, sebagaimana Allah berfirman
فَإِذَاجآءَتِ الصَّآخَّةُ "Maka apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua)" ( Q.S. 'Abasa : 33).
3.اَلطَّآمَّةُ (bencana besar), yaitu sebuah bencana yang meliputi segala sesuatu sehinga tidak ada yang selamat dari bencana tersebut.
4. اَلغَاشِيَةُ (menutup), karena bencana tersebut menutupi dan meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang terkecualikan.
5. يَوْمُ الْحِسَابِ (hari perhitungan), karena manusia seluruhnya akan disidang pada hari tersebut dengan persidangan sangat ketat. Tidak ada yang bisa berlari dari persidangan Allah.
6. يَوْمُ الدِّيْنِ (hari pembalasan), karena semua amalan manusia kelak akan dibalaskan. Di dunia yang ada hanyalah amal, namun di akhirat yang ada hanyalah pembalasan dan tidak ada lagi amal.
7. يَوْمُ الْمِيْزَانِ (hari pertimbangan), karena di akhirat kelak amalan manusia akan ditimbang. Manakah yang lebih berat, apakah kebaikan atau keburukan? Sebagaimana akan disinggung di akhir surat al-Qari'ah.
8. اَلْقَارِعَةُ (ketukan keras), yaitu dahsyatnya hari Qiyamat yang mengetuk dan menakutkan hati manusia.(Tafsir at-Thabari 24/ 592)., karena orang yang menghadiri hari Kiamat semuanya pasti ketakutan dengan ketakutan yang sangat dahsyat.
Sebagaimana yang Allah SWT gambarkan di dalam al-Qur'an tentang kengeriannya, Allah berfirman :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْارَبَّكُمْ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْئٌ عَظِيْمٌ(١) يَوْمَ تَرَوْنَهَاتَذْهُلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآاَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَاوَتَرَی النَّاسَ سُكٰرٰی وَمَاهُمْ بِسُكٰرٰی وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ (٢)
1. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
2. Ingatlah pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (Q.S. Al-Hajj/ 22 : 1 - 2)
Semua itu disebabkan karena kedahsyatan neraka Jahannam. Allah juga menggambarkan tentang ketakutan orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan. Allah berfirman :
يَوْمَ يُنْفَخُ فِی الصُّوْرِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِيْنَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا
(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. (Q.S. Tāhā/ 20 : 102)
Karena ketakutan yang amat sangat, membuat mereka pucat berlebihan sampai tubuh mereka menjadi berwarna biru. Demikianlah Allah gambarkan juga kejadian pada hari kiamat dalam firman :
فَاِذَاجَآءَتِ الصَّآخَّةُ (٣٣) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ (٣٤) وَاُمِّهِ وَاَبِيْهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيْهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ (٣٧)
33.Dan jika suara keras yang memekakkan telinga telah terjadi pada hari kiamat,
34. hari ketika seseorang menghindar dari saudara,
35. Dari ibu dan bapaknya
36 dari istri, dan anak-anaknya,
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Pada ayat di atas Allah SWT menyebutkan orang-orang terdekat dari seseorang seperti saudaranya, ibunya, ayahnya, isteri dan anak-anaknya semuanya tidak akan peduli bahkan keluarganya sendiri akan meninggalkannya, karena semua orang pada hari itu sibuk dengan urusannya, sehingga Allah SWT menamakannya dengan hari yang menakutkan hati.
Pada ayat tersebut Allah SWT hanya menyebutkan اَلْقَارِعَةُ sebagai Mubtada tetapi tidak menyebutkan Khabarnya, yang akan melengkapinya. Ini adalah salah satuuslub untuk menunjukkan akan dahsyatnya sesuatu seakan-akan Allah SWT ingin mengatakan bahwa hari Kiamat itu sudah dekat dan sungguh akan terjadi hari Kiamat itu.
Allah kembali menyebutkan kata yang sama sebagai bentuk penguatan. Ini adalah pertanyaan dengan tujuan pengagungan terhadap perkara hari Kiamat. Allah ingin menekankan dan menjelaskan bahwasannya hari itu adalah hari yang sangat dahsyat.
Allah kembali mengulanginya dan kembali menekankannya bahwasannya hari itu benar-benar dahsyat. Metode pengulangan seperti ini dapat dijumpai dalam ayat lain, contohnya :
وَمَآاَدْرٰكََ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ(١٧) ثُمَّ مَآاَدْرٰكَ مَايَوْمُ الدِّيْنِ(١٨)
"Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Q.S. al-Infitār/82 : 17-18)
Setelah Allah SWT mengulang-ulang penyebutannya, kemudian menjelaskan tentang hal hal tersebut.
Manusia pada hari itu keluar dari kuburnya dalam keadaan bingung, ketakutan menyaksikan dahsyatnya hari Kiamat. Mereka bingung sebagaimana saat kita melihat laron di malam hari yang bertebaran, bertumpuk-tumpuk tidak tentu arahnya. Bahkan ketika ada api, maka laton-laron tersebut segera berebutan untuk berjatuhan menuju api yang membakar mereka, ini semua karena kebingungan dan tak paham (lihat tafsir as-Sa'adii hal. 933)
Maka kira-kira demikian kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Allah juga memisalkannya dengan bentuk yang lain, Allah berfirman :
خُشَّعًااَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌمُّنْتَشِرٌ(٧)
"Pandangan mereka tertunduk ketika mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (Q.S al-Qamar/54 :7)
اَلْعِهْنُ dalam bahasa Arab adalah bulu-bulu yang diambil dari hewan yang biasa diambil untuk ditenun peperti kain wol. Apabila kita mengambil bulu-bulu tersebut kemudian kita buang atau pukulkan pada sesuatu maka dia akan bertebaran, mudah tertiup oleh angin. Demikianlah kondisi gunung-gunung pada hari Kiamat.
Gunung yang ada di dunia ini akan mengalami beberapa kejadian. Ada beberapa tahapan, tahapan pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut kemudian menerbangkannya. Alah SWT berfirman :
(٨٨) اِنَّهٗ خَبِيْرٌبِمَاوَتَرَی الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيئتَفْعَلُوْنَ
"Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha teliti apa yang kamu kerjakan." (An-Naml/27 : 88)
Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا(٢٠)
"Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. (Q.S. an-Naba/78 : 20)
Kemudian Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut dan membenturkannya dengan bumi. Allah SWT berfirman :
وَحُمِّلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةً(١٤) فَيَوْمَئِذٍوَّقَعَتِ الْوَاقِعَةُ(١٥)
(14).Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. (15). Maka pada hari itu terjadilah hati Kiamat.
Allah SWT berfirman dalam ayat lain :
وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا(٥) فَكَانَتْ هَبَآءًمُّنْبَثًّا(٦)
(5) dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya,
(6) maka jadilah dia debu yang beterbangan.
Demikianlah keadaan gunung pada hari Kiamat yang tadinya kokoh, kemudian dihancurkan oleh Allah SWT menjadi seperti debu yang beterbangan.
Maka Allah SWT berfirman :
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّی نَسْفًا(١٠٥) فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (١٠٦)لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًۭا وَلَآ أَمْتًا(١٠٧)
(105) Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya(di hari Kiamat) sehancur-hancurnya,
(106) maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,
(107) tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi".
Bumi yang kita tempati sekarang ini adalah bumi yang bulat. Namun pada hari Kiamat kelak semua akan dirubah oleh Allah SWT menjadi datar untuk dijadikan padang mahsyar sebagai tempat berkumpulnya manusia dari awal sampai akhir dunia. Di padang mahsyar semua manusia akan melalui hari yang namanya Yaumul Hisab yaitu hari perhitungan. Setelah itu baru kemudian manusia akan menjumpai Yaumil Mizan yaitu hari penimbangan.
Ahlussunnah wal jama'ah mengimani akan adanya mizan (timbangan) yang akan Allah SWT hadirkan pada hari Kiamat. Hanya saja terdapat ikhtilaf di antara para ulama apakah mizan tersebut hanya satu atau banyak. Zhahir ayat menunjukkan bahwasannya mizan itu ada banyak karena datang dalam bentuk jamak (banyak). Hal ini dijumpai dalam firman Allah SWT :
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَاتُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْأً وَّاِنّْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَابِهَا وَكَفٰی بِنَاحَاسِبِيْنَ (٤٧)
"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (Q.S. al-Anbiya/21 : 47)
Namun terkadang pula mizaan datang dalam bentuk mufrad (tunggal) seperti hadits nabi :
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ تَمْلَأُ الْمِيْزَانَ
"Kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan (H.R. Muslm no. 223)
Pada hari Kiamat kelak akan ada 3 perkara yang ditimbang yaitu : (1) amalan shalih; (2) pemilik amalan itu sendiri; (3) buku catatan amal.
Tentang amalan shalih maka ada banyak dalil yang menunjukkan akan ditimbangnya hal tersebut, seperti hadits Nabi :
مَامِنْ شَيْئٍ اَثْقَلُ فِی الْمِيْزَا مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada suatu yang lebih berat di timbangan daripada akhlak mulia". (H.R. Abu Daud no. 4799).
Berdasarkan hadits di atas, sebagian ahli bid'ah mengingkari adanya timbangan yang hakiki. Mereka menyangkal dan menganggap tidak mungkin amalan itu bisa ditimbang karena amalan adalah sesuatu yang abstrak. Sehingga mereka mengatakan bahwa timbangan itu hanyalah majas/kiasan.
Padahal Allah Maha Kuasa mengubah segala sesuatu menjadi mudah, apakah mengubahnya menjadi sesuatu yang konkret atau terserah Allah bagaimana. Demikian pula dengan kematian. Kematian adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi di akhirat kelak Allah akan mendatangkan dalam bentuk kambing yang disembelih di antara surga dan neraka yang menunjukkan tidak adanya lagi kematian setelah itu. Begitu pula dengan amalan keburukan yang akan mendatanhi pelakunya di alam barzakh dalam bentuk yang sangat mengerikan.
Yang kedua yang akan ditimbang adalah pemilik amalan shalih itu. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits tentang sahabat yang memiliki betis yang kurus.
Suatu ketika hendak bersiwak, Nabi menyampaikan kepada Abdullah Ibnu Mas'ud atas keinginan Nabi tersebut. Abdullah Ibnu Mas'ud naik di atas sebuah pohon yang rantingnya digunakan untuk bersiwak, tiba-tiba tertiup angin dan menyingkap pakaian Abdullah Ibnu Mas'ud dan terlihat betis beliau yang sangat kecil. Spontan para sahabat yang bersama dengan Nabi pada waktu iyu mereka tak sengaja melihat dua betis Abdillah Ibnu Mas'ud kemudian menertawainya dan Nabipun marah dengan sikap sebagaian sahabat yang menertawai betis Abdullah Ibnu Mas'ud, beliau menengok kepada sahabat yang tertawa dan mengatakan :"kenapa kalian tertawa", mereka berkata:"Wahai Nabi Allah karena kedua betisnya yang kurus(sehingga ia tergoyang karena tertiup angin). Nabi berkata :"demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud. (HR. Ahmad no. 3991).
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
اِنَّهٗ لَيَأْتِی الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَايَزِنُ عِنْدَ اللّٰهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ
"Sungguh pada hari Kiamat akan datang seorang yang gemuk namun timbangannya di sisi Allah tidak melebihi berat sayap seekor nyamuk." (HR. Bukhari no. 4729 dan Muslim no. 2785).
Kemudian Nabi membacakan firman Allah :
فَلاَنُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
"Dan Kami tidak menilai timbangan mereka samasekali pada hari kiamat." (Q.S. al-Kahfi : 105)
Ini dalil bahwasannya manusia sebagai pelaku amalan shalih itu juga akan ditimbang pada hari Kiamat.
Yang ketiga yang akan ditimbang adalah catatan amalnya sebagaimana dalam sebuah hadits yang masyhur yang dikenal dengan nama hadits bithaqah tentang kisah pelaku maksiat yang meninggal dalam keadaan bertauhid kemudian dimaafkan dosa-dosanya.
Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًامِنْ اُمَّتِی عَلَی رُءُوْسِ الْخَلَآئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّاكُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُوْلُ لَهٗ اَتُنْكِرُ مِنْ هٰذَا شَيأً؟ اَظَلَمْتُكَ كَتَبَتِی الْحَافِظُوْنَ؟ قَالَ : لَايَارَبِّ،فَيَقُوْلُ : اَلَكَ عُذْرٌ اَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ فَيَقُوْلُ : لَايَارَبِّ فَيَقُوْلُ : بَلَی اَنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ فَتُخْرَجُ لَهٗ بِطَاقَةٌ فِيْهَااَشْهَدُ اَن لَآاِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ فَيَقُوْلُ : اَحْضِرُوْهُ فَيَقُوْلُ : يَارَبِّ مَاهٰذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هٰذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ : اِنَّكَ لَاتُظْلَمُ قَالَ: فَتَُوْضَعُ السِّجِلَّاتُ فِی كَفَّةٍ قَالَ : فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ وَلَا يَثْقُلُ شَيْئٌ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memilih seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat. Lalu dibukakan kepadanya 99 catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : "Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal itu? Apakah pencatatanku (malaikat) itu telah menzhalimimu? Orang itu berkata : "tidak wahai Tuhanku", Allah berfirman : "apakah engkau mempunyai udzur atau alasan atau mempunyai kebaikan? Orang itupun tercengang dan berkata : "tidak wahai Rabb". Dikatakan sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi". Nabi SAW bersabda : lalu diletakkanlah catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan ituringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat daripada. Tidak ada sesuatupun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
(HR. Ahmad 6994. Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
![]() |
| Masjid Laksamana Cheng Ho, Surabaya Jawa Timur. |
Minat gabung belajar NANTI MALAM?
Silahkan masuk room dengan cara KLIK DI SINI
BILARI MEMIKAT HATI
MALAM INI, 20.02 WIB DI MAJLIS THOLAB ILMU ZOOM MEETING KAUSAKu4NKRI.
Narsum: Drs. Aang Taufik, M.Si. (Pokjawas PAI Kuningan) - Ummi Yuyun Sri Mulyati, S.Pd.I (Pelatih PKB Sumedang).
KETUA POKJAWAS PAI (Keynote Speaker).
LINK Absen: Ibu Selvi Saptya Dewi, S.Pd-Sekretaris KAUSAKu4NKRI-Medan Sumut
By : Yusri
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
9. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
(Q.S. Al Munafiqun/63: 9)
Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa kata "laa tulhikum" merupakan kalimat nahyi (larangan).
Kata لَهْوٌ secara etimologi artinya kelengahan. Sedangkan menurut terminologi artinya meninggalkan yang penting dan mengerjakan yang tidak penting, atau meninggalkan yang lebih penting dengan melakukan
yang penting, jadi bertentangan dengan prioritas. Ini sebagai warning bagi orang-orang yang beriman agar jangan melakukan hal yang tidak penting dengan meninggalkan hal yang penting disebabkan karena harta dan anakmu. Kita harus selalu waspada akan ujian Allah lewat harta dan anak.
Mengapa Allah begitu memberikan peringatan keras tentang harta dan anak? Hal ini karena secara manusiawi punya kecenderungan yang berlebih terhadap kehidupan dunia ini. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Surat Ali ‘Imran Ayat 14
لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ زُيِّنَوَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
Arab-Latin: Zuyyina lin-nāsi ḥubbusy-syahawāti minan-nisā`i wal-banīna wal-qanaṭīril-muqanṭarati minaż-żahabi wal-fiḍḍati wal-khailil-musawwamati wal-an'āmi wal-ḥarṡ, żālika matā'ul-ḥayātid-dun-yā, wallāhu 'indahụ ḥusnul-ma`āb
Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Pelajaran Menarik Tentang Surat Ali ‘Imran Ayat 14. Terdapat sekumpulan penjabaran dari para mufassirun berkaitan kandungan surat Ali ‘Imran ayat 14, antara lain seperti di bawah ini:
📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
Dijadikan indah bagi manusia untuk mencintai apa saja yang mereka sukai, berupa wanita, anak-anak, kekayaan yang melimpah seperi emas, perak dan kuda-kuda yang baik, dan binatang-binatang ternak semisal unta,sapi dan kambing, serta tanah yang di jadikan untuk bercocok tanam dan berladang. Semua itu adalah pesona kehidupan dunia dan perhiasannya yang akan sirna. Dan Allah di sisiNYA terdapat tempat kembali dan pahala yang baik, yaitu surga.
📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)
14. Allah -Ta'ālā- menyampaikan bahwasanya Dia telah menghiasi hidup manusia -sebagai ujian bagi mereka- dengan kecintaan pada kesenangan-kesenangan duniawi, seperti wanita, anak laki-laki, harta yang banyak dan berlimpah berupa emas dan perak, kuda yang bertanda lagi bagus, binatang ternak berupa unta, sapi dan kambing, dan pertanian. Itu adalah kesenangan hidup di dunia yang bisa dinikmati dalam jangka waktu tertentu kemudian hilang. Maka tidak sepatutnya seorang mukmin menggantungkan hidupnya pada kesenangan tersebut. Hanya Allah saja yang memiliki tempat kembali yang baik, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah
14.Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap wanita, dan diciptakan dengan tabiat mencintai banyak keturunan, harta berupa emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk, kuda pilihan yang terlatih, hewan ternak berupa unta, sapi, dan kambing, dan sawah ladang yang produktif. Demikianlah kenikmatan yang ada di dunia yang fana, sedangkan di sisi Allah terdapat tempat kembali yang baik berupa surga.
📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah
14. زُيِّنَ لِلنَّاسِ (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia )
Yakni Allah menghiasai hal-hal ini dihadapan pandangan manusia.
حُبُّ الشَّهَوٰتِ ( kecintaan kepada apa-apa yang diingini)
Yakni hal-hal yang yang menyenangkan hati yang didalamnya terdapat kenikmatan.
مِنَ النِّسَآءِ ( wanita-wanita)
Allah memulai dengan wanita-wanita karena besarnya kerinduan jiwa kepada mereka.
وَالْبَنِينَ ( anak-anak)
Dan Allah mengkhususkan penyebutan anak laki-laki tanpa menyebutkan anak perempuan karena tidak semua orang menyukai anak perempuan.
وَالْقَنٰطِيرِ (harta yang banyak )
kata jamak dari (القنطار) yakni ukuran seratus Rathl Rathl (sekitar 3,81 kg menurut madzhab Syafi’i).
dan pendapat lain mengatakan ini adalah sebutan bagi harta yang banyak.
الْمُقَنطَرَةِ (yang melimpah ruah)
Yakni yang berlipat ganda.
وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ (dan kuda pilihan )
Yakni kuda gembalaan yang digembala di padang rumput.
Dan pendapat lain mengatakan yakni kuda yang diberi tanda dengan tanda yang membedakannya dengan yang lain karena kualitas, kemurnian, dan kebagusan sifat-sifatnya.
وَالْأَنْعٰمِ ( binatang-binatang ternak)
Yakni unta, sapi, dan kambing.
وَالْحَرْثِ ۗ ( dan sawah ladang)
Yakni ladang dan apa yang ada didalamnya seperti tanah, pohon-pohon, dan tanaman.
ذٰلِكَ مَتٰعُ الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا ۖ ( Itulah kesenangan hidup di dunia)
Yakni hal-hal yang telah disebutkan tersebut adalah dari apa yang dinikmati di kehidupan ini yang kemudian akan pergi tak tersisa.
وَاللهُ عِندَهُۥ حُسْنُ الْمَـَٔابِ(dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik )
Yakni tempat kembali yang baik bagi orang-orang mukmin berupa surga dan apa yang ada didalamnya.
📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah
14. Syahwat yang menyenangkan hati itu dibuat menjadi sesuatu yang dicintai oleh manusia, yaitu wanita yang untuk dinikmati dan membuat keturunan, anak laki-laki, harta melimpah yang telah terkumpul atau berlipat-lipat mencapai jumlah yang sangat banyak berupa emas, perak, kuda dari keturunan yang baik dan istimewa yang memiliki beberapa tanda, hewan-hewan ternak (unta, sapi, dan kambing) dan hasil pertanian. Semua yang disebutkan itu adalah sesuatu yang hanya dinikmati di dunia, kemudian menghilang. Dan di sisi Allah itu tempat kembali yang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa
📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah
{Dihiasi} diperindah {bagi manusia yang mencintai syahwatnya berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga} dan harta terkumpul sangat banyak {berupa emas, perak, kuda pilihan} yang memiliki tanda yang indah {binatang ternak, dan sawah ladang} ladang {Itulah kesenangan kehidupan dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik} tempat kembali
📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H
14. Allah mengabarkan dalam dua ayat ini tentang kondisi manusia ketika mendahulukan dunia atas akhirat, lalu antara kedua alam tersebut, di mana Allah mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara-perkara tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka, dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka, jiwa-jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan-kenikmatannya. Dan setiap kelompok dari manusia itu condong kepada salah satu jenis dari jenis-jenis kenikmatan tersebut, yang sebenarnya mereka telah menjadikannya sebagai cita-cita terbesar mereka dan puncak dari pengetahuan mereka. Padahal itu semua hanya kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu yang sekejap, maka itulah “kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).”
📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi
Surat Ali ‘Imran ayat 14: Telah dihiasi (hati) manusia (dengan) kesukaan barang-barang yang diingini) yaitu perempuan-perempuan dan anak cucu dan emas dan perak yang berpikul-pikul dan kuda-kuda (kenaikan) yang bagus-bagus dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang; yang demikian itu perhiasan hidup di dunia; tetapi di sisi Allah ada tempat kembali yang baik,
📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
Hewan-hewan yang termasuk jenis unta, sapi, kambing dan biri-biri.
Manusia dalam menyikapi hal-hal di atas terbagi menjadi dua golongan:
Golongan pertama, golongan yang menjadikan semua itu sebagai tujuan. Oleh karena itu, pikiran, hati dan perbuatan mereka tertuju kepadanya sehingga membuat mereka lupa terhadap sesuatu yang karenanya mereka diciptakan, yaitu ibadah. Mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hanya mengejar kesenangan. Mereka tidak peduli bagaimana cara memperoleh kesenangan itu, ke arah mana mereka salurkan dan keluarkan. Semua yang mereka kejar ini sesungguhnya bekal mereka ke negeri tempat kesengsaraan.
Golongan kedua, mereka mengetahui maksud dari semua itu, dan bahwa Allah menjadikannya sebaga ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya agar diketahui siapa yang lebih mendahulukan ketaatan dan keridhaan Allah daripada kesenangan itu, oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai sarana menuju akhirat. Mereka gunakan kesenangan itu untuk dapat membantu memperoleh keridhaan-Nya. Memang mereka memegang semua itu, namun hati mereka tidak memegangnya, dan mereka tahu bahwa semua itu merupakan kesenangan kehidupan dunia.
Dalam ayat ini terdapat hiburan bagi kaum fakir yang tidak memperoleh kesenangan itu, ancaman bagi orang-orang yang terpedaya oleh kesenangan tesebut dan membuat zuhud orang-orang yang berakal.
📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Ali ‘Imran Ayat 14
Ada beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang mengambil pelajaran dari peristiwa di atas, yaitu dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan dan sulit untuk dibendung, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan yang bagus dan terlatih, hewan ternak, dan sawah ladang, atau simbol-simbol kemewahan duniawi lainnya. Itulah kesenangan hidup di dunia yang bersifat sementara dan akan hilang cepat atau lambat, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, yaitu surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Hal-hal yang disebut di atas adalah baik dan sesuai dengan naluri manusia, tetapi ada yang lebih baik dari itu semua. Maka katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang yang terlalu mencintai dunia dan kepada siapa pun juga, maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu' bagi orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi tuhan yang mendidik dan memelihara mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengairi-Nya. Selain tempat tinggal yang nyaman itu, mereka hidup kekal di dalamnya, dan mereka juga dianugerahi pasangan-pasangan yang suci dari segala macam kekotoran jasmani dan rohani seperti haid, nifas, dan perangai buruk, serta kenikmatan rohani yang tidak ada taranya, yaitu rida Allah yang amat besar. Dan anu-gerah tersebut wajar karena Allah maha melihat hamba-hamba-Nya, mengetahui segala keadaan mereka dan memberikan balasan yang terbaik.
Pada hakikatnya, dalam pandangan Islam, harta yang kita miliki bukanlah harta kita, melainkan semua titipan dari Allah Swt. Kita tidak tahu kapan harta itu diambil oleh Allah Swt secara tiba-tiba. Kita tak bisa mengklaim itu harta kita seutuhnya ketika nyawa sudah berpisah dari badan.
Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah. Anak ibarat kertas putih yang masih kosong yang dapat menerima ukiran dan gambar apapun. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mengukir dan menggambar hati sang buah hati. Baik dan buruknya seorang anak banyak diperngaruhi oleh kedua orang tua dan orang-orang yang mendidiknya. Salah dalam mendidik anak, maka akan berakibat fatal dan berdampak buruk terhadap anak tersebut. Bahkan juga kepada orang tuanya sekalipun.
TAFSIR
4 Posisi Anak dalam Al-Qur’an: Penyejuk, Perhiasan, Ujian, hingga Musuh.
Anak adalah anugerah Yang Maha Kuasa bagi para orang tua. Anak juga amanah dan perhiasan bagi mereka, sekaligus kebanggaan di kemudian hari. Namun di samping itu, anak juga bisa menjadi fitnah atau ujian, bahkan menjadi musuh bagi para orang tuanya. Kapankah seorang anak bisa menjadi musuh, ujian, perhiasan, dan menjadi penyejuk hati? Al-Qur’an telah mejelaskan keempat tipikal anak kepada kita semua.
Pertama, anak sebagai penenang hati, penyejuk jiwa, dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Tipikal ini menjadi yang terbaik dan tertinggi dari seorang anak. Hal itu sebagaimana terungkap dalam doa Al-Qur’an berikut ini.
رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan [25]: 74).
Para ulama tafsir menyebutkan, maksud qurrata a’yun dalam ayat di atas adalah anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama. Tak heran jika anak yang memiliki perangai ini menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa, menjadi kebanggaan dan pembela bagi para orang tua di dunia dan akhirat. Namun, tipikal anak ini tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan perjuangan keras dari orang tua untuk mengasuh, membina, dan mendidiknya, bahkan sudah pasti membiayainya. Dan yang tak kalah penting adalah doa, baik dari orang tua maupun dari orang-orang yang saleh. (Lihat: Tafsir Muqatil ibn Sulaiman, [Beirut: Daru Ihya at-Turats], 1424 H, jilid 3, hal. 242).
Kedua, anak sebagai perhiasan dunia. Hal itu sebagaimana yang diungkap ayat berikut:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi [18]: 46).
Dalam ayat ini, anak diposisikan sebagai perhiasan dan kekayaan dunia bagi orang tuanya. Layaknya perhiasan dan kekayaan, anak diperlakukan, dijaga, bahkan disayang sebaik-baiknya oleh para orang tua. Kaitan dengan tipikal ini, anak disejajarkan dengan perhiasan dan kekayaan dunia yang lainnya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ayat yang lain. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga), (QS. Ali ‘Imran [3]: 14).
Namun, kecintaan yang berlebihan membuat para orang tua terlena dan seringkali mengabaikan hal-hal yang membahayakan sang anak itu sendiri. Mereka lupa, jika perlakuan yang diberikannya justru akan merusak masa depan anak kesayangannya. Karena itu, dalam ayat lain, Allah mengingatkan agar kekayaan dan keturunan tidak sampai melalaikan para hamba-Nya. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi, (QS. Al-Munafiqun [63]: 9).
Ketiga, anak sebagai fitnah atau ujian, sebagaimana yang diungkap dalam ayat:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيم
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun [64]: 15).
Mungkin ini pula yang dimaksud anak sebagai amanah atau titipan yang diharus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dipenuhi hak-haknya, disayang, dirawat, dididik agar memiliki masa depan yang cerah dan membahagiakan orang tuanya. Ingatlah Allah memiliki balasan yang besar bagi mereka yang menjaga amanat ini. Maka janganlah sia-siakan jiwa dan raga anak, jangan bunuh mereka karena takut miskin. Demikian yang diamanatkan dalam Al-Qur’an, Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar, (QS. Al-Isra’ [17]: 31).
Keempat, anak menjadi musuh. Hal itu diungkap dalam ayat berikut.
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْواجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun [64]: 14).
Sebagian mufasir menjelaskan, maksud sebagai musuh di sini adalah menjadi pihak yang menghalang-halangi jalan Allah, merintangi jalan ketaatan kepada-Nya. Maka hati-hatilah agar tidak dijerumuskan oleh mereka. Ini pula yang terjadi pada sejumlah sahabat yang ingin berhijrah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dihalang-halangi oleh anak-istri mereka. Lihat: Tafsir at-Thabari, Terbitan Muassasah ar-Risalah, 1420 H, Cet. Pertama, jilid 23, hal. 423).
Namun, mufasir lain mengemukakan, maksud sebagai musuh di sini adalah musuh seperti yang terjadi pada hari Kiamat, dimana antara orang tua dan anak, antara seseorang dengan kerabatnya tidak hanya dipisahkan, tetapi juga bermusuhan, bahkan saling gugat dan menyudutkan, akibat hak masing-masing tidak dipenuhi, kezaliman di antara mereka sewaktu di dunia, dan seterusnya. Hal itu berdasarkan ayat lain yang menyatakan, "Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tidak bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan," (QS. Al-Mumtahanah [60]: 3)
Di dalam Hadits Rasulullah SAW juga diterangkan yang berbunyi :
لَاتَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ اٰدمَ يَوْمَ الْقِيَلَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتّٰی يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا اَفْنَاه شَبَابِهِ فِيْمَااَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ اَيْنَ اِكْتَسَبَهٗ وَفِيْمَا اَنْفَقَهٗ وَمَاذَاعَمِلَ فِيْمَا
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)
Di sini yang perlu digarisbawahi tentang pertanggungjawaban harta ini depan belakang ditanya. Dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya.
Marilah kita sama-sama berbenah diri untuk lebih waspada dan menghayati makna dari larangan Allah dalam surat al-Munafiqun ayat 9 di atas. Semoga kita bisa mengelola harta dan anak agar menjadi investasi untuk kehidupan kelak di akhirat.
Wallaahu a'lam
Jangan tanya mengapa dan siapa...
Langitkanlah semua do'amu
Yakin, percaya, perluas kapasitas
Pantaskanlah diri
Jangan tanya kapan?
Allah maha tau kapan do'a kita akan terkabul
Di waktu yang tepat
Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang serius dalama ikhtiar dan do'a.
Jangan lelah melangitkan do'a
Membumikan ikhtiar
Jangan berputus asa dari rahmat Allah
In Syaa Allah akan menemukan titik bahagia.
Bersabarlah, do'a yang telah menembus langit tidak akan pernah kembali dalam keadaan kosong
Allah melihat perjuangan kita
Mendengar do'a² kita
Maka, yakinlah bahwa Allah tidak akan mengecewakan kita😇
Bismillah...
Semoga Allah meridhai
Menganugrahkan takdir yang indah
Membimbing setiap langkah
Agar apa yang dilakukan menjadi berkah
Dan apapun yang diusahakan berbuah indah
Di istiqamahkan keteguhan dalam beribadah.
#langitkan
Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan coba sedikit membahas sekilas tentang kitab Riyadhus Shalihin.
Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya Muhammad dengan membawa petunjuk dan menurunkan kepadanya Al Quran pedoman hidup umat yang kekal sampai hari kiamat serta memberikan tafsir Al Quran dan yang semisalnya bersama Al Quran tersebut, sehingga Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam baik berupa ucapan atau perbuatan adalah penjelas Al Quran dan penunjuk makna-maknanya.
Demikian juga para sahabat Rasulullah telah menghafal, mempelajari dan menulis Al Quran dan As Sunnah sedangkan Allah telah bertanggung jawab dalam menjaga kitab-Nya yang mulia dan menjadikan orang-orang yang menjaga dan memperhatikan As Sunnah An Nabawiyah sejak masa Rasulullah sampai sekarang hingga hari kiamat nanti.
Dengan taufik dari Allah, Sunnah Rasulullah menjadi pusat perhatian para ulama di setiap masa dan tempat sehingga sempurnalah penjagaan, taqyiid dan penulisannya dalam kitab musnad, shihah, sunan dan mu’jam-mu’jam. Di antara para ulama yang memberikan perannya dalam menjaga dan menulis As Sunnah adalah Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawy ad-Dimasyqy (631-676 H) yang termasuk dalam jajaran ulama besar di abad ke-7 hijriah.
Beliau memiliki hasil karya yang banyak lagi bermanfaat dalam pembahasan yang beraneka ragam. Karya-karya beliau telah mendapatkan pujian dan sanjungan serta perhatian yang besar dari para ulama sehingga mereka mempelajari, mengambil faedah dan menukil dari karya-karya beliau tersebut.
Di antara karya-karya beliau yang paling bermanfaat, terkenal dan tersebar di semua kalangan adalah kitab “Riyadhus Shalihin”. Hal itu terjadi setelah izin Allah, karena dua hal:
Pertama, isi kandungannya yang memuat bimbingan yang dapat menata dan menumbuhkan jiwa serta melahirkan satu kekuatan yang besar untuk berhias dengan ibadah yang menjadi tujuan diciptakannya jiwa tersebut dan mengantarnya kepada kebahagiaan dan kebaikan, karena kitab ini umum meliputi Targhib dan Tarhib serta kebutuhan seorang muslim dalam perkara agama, dunia dan akhiratnya. Kitab ini adalah kitab tarbiyah (pembinaan) yang baik yang menyentuh aneka ragam aspek kehidupan individual (pribadi) dan sosial kemasyarakatan dengan uslub (cara pemaparan) yang mudah lagi jelas yang dapat dipahami oleh orang khusus dan awam.
Dalam kitab ini penulis mengambil materinya dari kitab-kitab sunnah terpercaya seperti Shohih al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud, An Nasaa’i, At Tirmidziy, Ibnu Majah dan lain-lainnya. Beliau berjanji tidak memasukkan ke dalam bukunya ini kecuali hadits-hadits yang shohih dan beliau pun menunaikannya sehingga tidak didapatkan hadits yang lemah kecuali sedikit itu pun kemungkinan menurut pandangan dan ilmu beliau adalah shohih.
Kedua, tingginya kedudukan ilmiah yang dimiliki pengarang Riyadhush Shalihin ini diantara para ulama zamannya karena keluasan ilmu dan dalamnya pemahaman beliau terhadap sunnah Rasulullah.
Kitab Riyadhush Shalihin ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki kitab selainnya dari kitab-kitab Sunnah dan dia benar-benar bekal bagi penasihat, permata bagi yang menerima nasihat, pelita bagi orang yang mengambil petunjuk dan taman orang-orang sholih. Hal inilah yang menjadi sebab mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan ulama sehingga mereka memberikan syarah, komentar dan mengajarkannya di halaqoh-halaqoh mereka.
Akhirnya tidak dapat dipungkiri, kitab ini termasuk kitab yang paling banyak tersebar dan dimiliki sehingga kemasyhurannya telah melangit dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan orang-orang khusus dan awam, dan cukuplah (sebagai bukti) umumnya masjid menjadikannya sebagai bahan bacaan yang dibacakan kepada makmum setelah sholat atau sebelumnya.
Imam Nawawi memberikan keistimewaan dalam tertib dan pembuatan bab pembahasan, beliau membaginya menjadi beberapa kitab dan kitab-kitab ini dibagi menjadi beberapa bab lalu menjadikan kitab sebagai judul bagi hadits-hadits yang ada di dalam bab-bab yang banyak dari satu jenis dan menjadikan bab sebagai judul bagi sekelompok hadits yang menunjukkan satu permasalahan khusus.
Kitab ini terdiri dari 17 kitab, 265 bab dan 1897 hadits, beliau membuka mayoritas babnya dengan menyebut ayat-ayat dari Al Quran yang sesuai dengan pembahasan hadits yang ada lalu membuat tertib dan bab yang saling berhubungan sehingga kitab ini bisa mengalahkan selainnya dari kitab-kitab yang serupa dengannya. (Lihat Muqaddimah Syarhu Riyadhush Shalihin, karya: Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thoyaar, cetakan pertama tahun 1415/1995).
Inilah sekilas tentang kitab Riyadhus Shalihin. Semoga pembahasan singkat ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Barakallahu fiikum.
Akhirnya, tak ada gading yang tak retak dan tidak ada seorang pun yang lolos dari kesalahan. Oleh karena itu tegur sapa dan nasihat senantiasa diharapkan dan mudah-mudahan semua ini menjadi amal sholih dan bekal yang baik menuju hari pembalasan.
Sukoharjo, 22 Desember 2006 M
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh muslim.or.id
Alumni S1 Jusuran Hadits Universitas Islam Madinah, pembina Pondok Pesantren Ibnu Abbas Sragen, pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwwah Sukoharjo, pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia
“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)
Dari sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, المُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الجَبِينِ “Seorang mukmin meninggal dunia dengan keringat...
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan, Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami, Dia berkata, Sulaiman mengabarkan kepada kami, Dia berkata, Abdullah bin...
YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM
Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA
Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya
© 2023 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
© 2023 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
Assalamu’alaikum
Bolehkah kita sebatas membacakan kitab riyadus sholihin ini di tiap ba’da sholat fardhu.( tanpa memanggil ustadz )
Wassalamu’alaikum
Abu Salma
# Abu Salma
Maaf sebelumnya, bolehkah saya tahu kenapa Anda mengkhususkan belajar Riyadhushsholihin setelah sholat fardhu?
Bukankah belajar dan mengkaji kitab itu bisa kapan saja? Bahkan kita dianjurkan untuk senantiasa mengulang ulang apa yang telah kita pelajari kapan pun dan dimanapun kita berada.
Saya berharap Anda tidak meniru-niru gaya belajarnya orang Jamaah Tabligh. Dimana setiap sholat fardhu mereka senantiasa mengkaji kitab andalan mereka Fadhoilul A’mal.
Dan semoga Anda tidak berniat demikian, namun karena memang Anda tidak punya waktu belajar kecuali setelah sholat fardhu. Jika demikian kasusnya maka insyaallah tidak mengapa.
Belajar sendiri?
Tidak ada peraturan belajar harus ada pedamping, namun saya sarankan karena kita masih awam dan masih butuh banyak bimbingan, hendaknya kita belajar dengan ustadz atau kiyai yang terpercaya keilmuannya, yang berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah. Sehingga kita tidak salah faham memaknai apa yang dokandung dalam kitab tersebut.
Wallahul Muwaffiq.
#abu salma
wa’alaikumussalam
Kalau tanpa diniatkan ini adalah sesuatu keharusan atau sesuatu yang dianjurkan maka tidak apa-apa. Membaca kitab tersebut sekedar mencari waktu yang pas untuk membacanya, kemudian ketika khatam menggantinya dengan kitab yang lain, tanpa mengkhususkan kitab tertentu maka tidak apa-apa. Allahu a’lam…
afwan ana copy untuk dakwah ya
syukron
ass.ww.
saya setuju dengan anda. kitab riyadus sholihin memang seharusnya di baca oleh orang yang ingin meningkatkan keimanannya. isinya lebih singkat dibandingkan dengan kitab hadist yang lain. kapansaja di baca dengan sendirinya tidak meninggalkan membaca kitab alquran dengan memahami maknanya dan diusahakan untuk diamalkan isinya. wassalam
akhmad
Subhanallaah, Jazakumullaah Khoiron, Barokallaahu fiikum.
Izin share ya Akhi…
@Abu Salma
Coba baca kembali lebih teliti tulisan diatas. saya pikir Anda salah paham ketika membaca tulisan itu.
Sang penulis tulisan itu hanya menggambarkan/mengkisahkan kebiasaan dari sebagian kaum muslimin yang sering membaca kitab itu setelah sholat. penulis TIDAK menganjurkan atau mewajibkan membaca kitab itu setelah sholat. ingat,mengkhususkan belajar atau kajian atau kultum atau membaca buku pada waktu tertentu BELUM TENTU hal itu disebut bid’ah. misalnya mengkhususkan/menentukan kajian Al quran tiap hari selasa ba’da (SETELAH)maghrib, itukan bukan bidah? bukanya kita juga sering membuat jadwal seperti itu?
Menurut ana belajar bisa dimana saja, yang jelas panutannya menurut pemahaman Salafushshalih. melalui kitab2, tulisan mereka. salah satunya riyadush Shalihin ini, sebenarnya bukan pengkhususan waktunya. dalam kasus ana yang bekerja dan off pada hari jumat malam sabtu, maka kajian ditentukan hari itu, agar bisa berkumpul. bukankan menentukan bid’ah atau tidaknya harus melalui kriteria tertentu bukan asal tembak ente ahlul bid’ah. karena Syaikh Nasiruddin Albani selalu mengingatkan agar kita tidak buru-buru mengklaim ini bid’ah, ini ahlul bid’ah. temen ana malah ada yang melakukan ba’da maghrib membaca kitab2 yang nyaring agar bisa didengar istri dan anaknya sepulangnya dari shalat berjamaan di masjid tentunya. semoga kita bisa meneladani para salafushshalih
kalau hadist arba’in itu semua shahih ya?
#pasa
Walau tidak semua haditsnya lepas dari kritikan, namun Insya Allah semuanya shahih atau minimal hasan, dan termasuk hadits yang maqbul (dapat diterima).
Ass ww kata bid’ah sangat sering kita dengar. dan siapapun bisa pakai kata – kata itu. Namun setelah saya mengamati, sepertinya antar pemakai tidak sama dalam mengartikan kata bid’ah.Lah untuk kita tidak terjerumus ke peperangan antar muslim, kita tinjau ulang definisi bid’ah Tolong sumbernya yang kuat lho jangan asal – asalan. Kalaupun nanti defininya beda- beda tidak masalah yang penting sumber / referensi. Makasiiih!!!
Assalamu’alaikum
Adakah terjemahan bahasa Indonesianya?
Wa’alaikumus salam, ada, silahkan cari di toko2 buku agama Islam yang menjual kitab2 ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah
assalamualaikum
saya mohon ijin untuk menulis ulang,,,
Bismillah..
saya ingin membaca terjemah nya, apakah ada referensi untuk penerbit dan penerjemah nya?
Apakah bedanya kitab Riyadussholihin ini dengan kitab hadist lainnya???
Apakah kitab ini sudah memuat semua hadist sahih dari Rasulullah??
Bagi kami yang awam, apakah kitab ini sudah mencukupi untuk belajar/hafalan hadist??
Jazakumullahu Khairan katsiran untuk jawabnya.