![]() |
| HADITS 681, KITAB PUASA Bab Puasa Tatawu’ dan Puasa yang dilarang, BULUGHUL MARAM KARYA IMAM IBN HAJAR AL ATSQOLANY |
Perkataan "Syawal" berasal dari kata Arab, yaitu syala yang berarti irtafa’a, naik atau meninggi. Secara etimologi, arti kata syawal adalah peningkatan. Hal itu merupakan target ibadah puasa. Pasca-Ramadan diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang Muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih, sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah, tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadan dilatih secara lahir batin.
____________________________
Tathawwu maksudnya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah-ibadah yang bukan fardlu/wajib. Puasa Tathawu atau puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun), Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).
____________________________
Hadits/Informasi didapat dari Sahabat Nabi Saw yang bernama Abu Ayyub al-Anshari. Dikatakan al-Anshari karena sahabat yang satu ini memang dari kalangan Anshar. Namanya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Malik bin an-Najjar. Ia dikenal dengan nama dan kun-yahnya. Ibunya adalah Hindun binti Said bin Amr dari Bani al-Harits bin al-Khazraj. Ia adalah generasi awal memeluk Islam dari kalangan sahabat.
Abu Ayyub meriwayatkan hadits langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ubay bin Ka’ab al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Sementara sahabat-sahabat yang meriwayatkan hadits darinya adalah al-Barra bin Azib, Zaid bin Khalid, al-Miqdam bin Ma’di Karib, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Samrah, Anas bin Malik, dll. Dan banyak tabi’in meriwayatkan hadits darinya.
Di antara yang menunjukkan Abu Ayyub adalah orang yang pertama-tama memeluk Islam adalah ia turut serta dalam Baiat Aqabah. Dengan demikian, ia memeluk Islam sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ia juga turut serta dalam Perang Badar dan perang-perang setelahnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau tinggal di rumahnya hingga membangun rumah sendiri dan menyelesaikan pembangunan masjid.
Pengaruh Didikan Rasulullah Pada Abu Ayyub
Abdullah bin Abbas menceritakan suatu hari Abu Bakar keluar di siang hari. Saat matahari sedang panas-panasnya. Umar melihat Abu Bakar, kemudian ia bertanya, “Apa yang menyebabkanmu keluar di jam-jam seperti ini Abu Bakar?” “Tidak ada alasan lain yang membuatku keluar (rumah), kecuali aku merasa sangat lapar”, jawab Abu Bakar. Umar menanggapi, “Aku pun demikian -demi Allah- tidak ada alasan lain yang membuatku keluar kecuali itu.”
Saat keduanya dalam keadaan demikian Rasulullah keluar dan menghampiri keduanya. Beliau bersabda, “Apa yang menyebabkan kalian keluar pada waktu seperti ini?” Keduanya mengatakan, “Tidak ada yang menyebabkan kami keluar kecuali apa yang kami rasakan di perut kami. Kami merasa sangat lapar.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Aku juga -demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya- tidak ada hal lain yang membuatku keluar kecuali itu. Ayo berangkat bersamaku.”
Ketiganya pun beranjak. Mereka menuju rumah Abu Ayyub al-Anshari
Setiap hari, Abu Ayyub senantiasa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Jika istri-istri beliau tidak punya sesuatu untuk dimakan, beliau biasa ke rumah Abu Ayyub. Ketika ketiganya sampai di rumah Abu Ayyub, istri Abu Ayyub, Ummu Ayyub, mengatakan, “Selamat datang Nabi Allah dan orang-orang yang bersama Anda”. Rasulullah bertanya, “Dimana Abu Ayyub?” Abu Ayyub yang sedang bekerja di kebun kurma mendengar suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bersegera menuju rumahnya dan mengatakan, “Marhaban untuk Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.
Abu Ayyub berkata, “Wahai Rasulullah, waktu ini bukanlah waktu kebiasaan Anda datang ke sini.” “Benar,” jawab Rasulullah.
Abu Ayyub segera memetikkan beberapa tangkai kurma kering, kurma basah, dan kurma muda. Kemudian menawarkannya kepada Rasulullah, “Rasulullah, makanlah ini. Aku juga akan menyembelihkan hewan untukmu,” kata Abu Ayyub. “Kalau engkau mau menyembelih, jangan sembelih yang memiliki susu,” kata Rasulullah.
Abu Ayyub kemudian menghidangkan masakannya. Rasulullah mengambil sepotong daging dan meletakkannya pada roti. Kemudian beliau meminta Abu Ayyub, “Wahai Abu Ayyub, tolong antarkan ini untuk Fatimah karena telah lama ia tidak makan yang seperti ini.”
Setelah kenyang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma muda.” Beliau menitikkan air mata. Kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Ini adalah kenikmatan, yang nanti akan ditanyakan di hari kiamat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai orang yang senantiasa membalas kebaikan orang lain. Usai menyantap jamuan itu, Rasulullah berkata kepada Abu Ayyub, “Temuilah aku besok.” Keesokan harinya, beliau memberikan seorang anak perempuan untuk membantu-bantu di rumah Abu Ayyub. “Berbuat baiklah engkau padanya,” pesan Rasulullah kepada Abu Ayyub.
Abu Ayyub kembali ke rumahnya. Menemui istrinya dengan membawa budak perempuan itu. “Anak perempuan ini diberikan Rasulullah untuk kita. Beliau mewasiatkan agar kita berbuat baik dan memuliakannya.” Istrinya bertanya, “Kebaikan apa yang akan kau lakukan untuk menunaikan wasiat Rasulullah itu?” “Yang paling utama adalah membebaskannya dengan mengharapkan pahala dari Allah”, kata Abu Ayyub.
Demikian kehidupan sehari-hari Abu Ayyub. Lalu bagaimana keadaannya dalam kondisi perang?
Seorang Mujahid
Abu Ayyub al-Anshari adalah seorang mujahid di jalan Allah. Dikatakan, tidak ada satu perang pun di zaman Rasulullah yang tidak ia ikuti. Setelah Rasulullah wafat, ia tetaplah seorang mujahid. Perang terakhir yang ia ikuti adalah di zaman Kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Yaitu saat Muawiyah menyiapkan pasukan di bawah pimpinan anaknya, Yazid, untuk menyerang Konstantinopel. Saat itu umur Abu Ayyub mencapai 80 tahun. Perang tersebut menjadi perang terakhirnya. Dan ia dimakamkan di sana.
Meriwayatkan Hadits
Di antara hadits-hadits yang diriwayatkan Abu Ayyub al-Anshari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
Diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Atha bin Yazid al-Laitsi, dari Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلاَ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلاَ يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ ، شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا
“Jika kalian hendak buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat, jangan pula membelakanginya akan tetapi hadaplah timur dan barat.”
Dari al-Barra bin Azib, dari Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدما غربت الشمس. فسمع صوتا. فقال “يهود تعذب في قبورها”.
“(Satu saat), Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar setelah tenggelam matahari; beliau mendengar suara,lalu bersabda, “(Mereka itu adalah orang-orang) Yahudi yang disiksa di dalam kubur mereka”
Dari Ibnu Syihab, dari Atha bin Yazid al-Laitsi, dari Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا ، وَيَصُدُّ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ
”Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. Jika bertemu, keduanya saling cuek. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”
Wafat
Abu Ayyub mengisi hidupnya dengan jihad di jalan Allah. Perang terakhir yang ia ikuti adalah saat Muawiyah menyiapkan pasukan di bawah kepemimpinan anaknya, Yazid, untuk menaklukkan Konstantinopel. Saat itu, Abu Ayyub telah menginjak usia 80-an tahun. Tapi tidak membuat ia gengsi untuk berada di bawah kepemimpinan anak muda yang bernama Yazid. Di usia yang senja itu, beliau tetap bersemangat mengarungi lautan menggapai pahala jihad.
Baru saja menginjakkan kaki di sedikit wilayah musuh, ia jatuh sakit. Sehingga tak dapat turut serta lagi dalam peperangan. Yazid menjenguknya dan bertanya, ”Apakah Anda memiliki keinginan?”
”Sampaikan salamku kepada pasukan kaum muslimin. Katakan pada mereka tempuhlah wilayah musuh sejauh mungkin dan bawa jasadku bersama kalian. Agar kalian menguburkannya di bawah kaki kalian di sisi benteng konstantinopel.” Kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Dari Said bin Abdul Aziz, dari al-Walid, ia berkata, ”Muawiyah menyiapkan anaknya memimpin pasukan perang 55 H. Sebuah pasukan untuk berperang di laut dan darat. Hingga mereka menembus Teluk. Dan berperang dengan pasukan Konstantinopel di pintu bentengnya dan menguasainya.
Dari al-Ashma’i, dari ayahnya, bahwa Abu Ayyub dimakamkan di dinding benteng Konstantinopel. Di pagi harinya, orang-orang Romawi berkata, “Wahai orang-orang Arab, (kami melihat) terjadi sesuatu pada kalian semalam.” Mereka menjawab, “Telah wafat salah seorang sahabat senior dari Nabi kami.”
al-Waqidi mengatakan, “Abu Ayyub wafat pada tahun 52 H. Yazid mengimami shalat jenazahnya. Ia dimakamkan di sisi benteng Konstantinopel. Sungguh sampai kabar kepadaku bahwa orang-orang Romawi mencari makamnya. Kemudian meminta hujan dengan perantaranya.”
Khalifah mengatakan, “Abu Ayyub wafat pada tahun 50 H.” Sedangkan Yahya bin Bakri berpedapat Abu Ayyub wafat tahun 52 H. Artinya, sejarawan berbeda pendapat tentang tahun wafatnya Abu Ayyub.
______________
IMAM MUSLIM
Bicara hadits, kita tak bisa lepas dari nama Imam Muslim. Ulama ahli hadits penyusun kitab shahih kedua setelah Shahih Bukhari. Hadits adalah sumber hukum kedua dalam Islam.
Imam Muslim merupakan Ulama ahli hadits al hafizh yang sangat cerdas, teliti dan luar biasa kontribusinya bagi umat Islam.
Kelahiran Imam Muslim
Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ada yang menyebut beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H di Naisabur, sehingga usia beliau pada saat wafat adalah 55 tahun. Hal ini sebagaimana dikatakan Abu Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitab Ulama Al-Amshar, juga disetujui An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (123/1).
Nama dan Nasab Imam Muslim
Nama lengkap beliau adalah Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kausyadz Al Qusyairi An Naisaburi. Kausyadz kadang disebut dengan Kawisyadz. Kota Naisabur, bagian dari Khurasan yang sekarang manjadi bagian dari negara Iran arah timur laut. Kota ini dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, politik, dan perekonomian. Sedangkan Khurasan, menurut Imam Dzahabi dalam kitabnya al-Amshar Dzawatu al-Atsar adalah tempat berputarnya hadis dan berkumpulnya orang-orang mulia. Karena di sana merupakan salah satu tempat diperolehnya sanad 'ali (hadis dengan jalur periwayat yang pendek).
Imam Muslim juga memiliki panggilan Abul Husain. Ia seorang imam besar, hafizh, hujjah dan shadiq. Hafizh di masa lalu tidak sama dengan istilah hafizh di masa sekarang. Jika di masa sekarang hafizh adalah seorang muslim yang hafal Al Qur’an 30 juz, di masa para ulama terdahulu hafizh adalah seorang ulama yang hafal banyak hadits. Minimal puluhan ribu hadits.
Beliau termasuk Al Qusyairi. Yakni penisbatan kepada kabilah Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah. Kabilah yang banyak melahirkan ulama.
Keluarganya juga termasuk kaya. Keluarga pedagang. Kelak Muslim bin Al Hajjaj juga menjadi seorang pedagang pakaian yang sukses. Pebisnis kaya raya yang hidup berkecukupan dan mampu membiayai perjalanan rihlah serta dakwahnya sendiri.
Sejak kecil, Muslim bin Al Hajjaj tekun belajar. Pada usia 12 tahun ia mulai belajar hadits sehingga meskipun tidak ada tahun pasti kapan ia hafal Al Qur’an, hampir pasti ia sudah hafal Al Qur’an di masa kecil. Sebagaimana para ulama besar lainnya.
Rihlah ke Berbagai Negeri
Ciri khas ulama ahli hadits adalah rihlah. Mereka bepergian ke berbagai negeri dalam rangka mencari dan memvalidasi hadits. Sebagaimana Imam Bukhari melakukannya, Imam Muslim juga melakukannya.
Pada usia 18 tahun, Muslim sudah belajar dari ulama ternama Yahya bin Yahya At Tamimi. Pada usia 20 tahun, ia menunaikan ibadah haji kemudian belajar kepada para ulama di Makkah. Terutama kepada Al Qa’nabi.
Sebelum genap 30 tahun, ia telah melakukan rihlah ke berbagai negeri sehingga mendapatkan banyak hadits dan ilmu dari banyak ulama. Mulai di Kharasan, Ray, Hijaz, Mesir dan wilayah-wilayah lain. Rihlah juga ia lakukan setelah usia itu.
Sifat dan Karakter Imam Muslim
Secara fisik, Imam Muslim memiki postur tubuh yang tinggi dan good looking. Penampilannya rapi, wajahnya tampan. Pakaiannya juga bagus. Sering kali ujung surban terurai di antara kedua pundaknya.
Tidak mengherankan jika pakaiannya bagus sebab Muslim adalah seorang pedagang kain yang kaya raya. Ia juga terkenal sebagai dermawan yang banyak menggunakan kekayaannya untuk sedekah dan membantu orang yang membutuhkan.
Beliau seorang ulama yang dihormati para pembesar kerajaan. Mereka mempersilakan beliau untuk memimpin shalat dan kaum muslimin dalam jumlah besar mengikutinya.
Beliau juga orang yang terkenal sangat jujur dan penuh kemuliaan. “Kami tidak akan pernah sepi dari kebaikan selama Allah masih memberikan kesempatan kepadamu berada di tengah-tengah kaum muslimin,” kata Abu Amr Ahmad bin Al Mubarak.
Keilmuan dan Kecerdasan Imam Muslim
Imam Muslim memiliki ingatan yang sangat kuat. Para ulama mengakui kecerdasan dan kejeniusannya.
“Orang paling hafizh di dunia ini ada empat; Abu Zar’ah di Ray, Muslim di Naisabur, Ad Darimi di Samarkand dan Muhammad bin Ismail di Bukhara,” kata Muhammad bin Basyar.
Muhammad bin Abdul Wahab Al Farra, mengatakan tentang muridnya: “Muslim adalah ulamanya manusia dan gudang ilmu. Saya tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.”
Imam Muslim hafal 300.000 hadits. Dari hadits sebanyak itu beliau kemudian menyeleksinya dan hanya memasukkan sekitar 7.500 hadits dalam Shahih Muslim termasuk pengulangan.
“Aku telah menulis kitab karyaku (Shahih Muslim) ini dari 300.000 hadits pilihan yang masmu’ah,” kata beliau.
Penyusunan kitab Shahih Muslim sendiri memakan waktu 15 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menulis sebuah kitab. Namun karena ini adalah kitab hadits yang penyusunannya sangat teliti, ia tergolong cepat. Sebagian ulama menyebutkan, untuk bisa menyusun kitab hadits seotentik Shahih Muslim, butuh waktu 200 tahun.
Iman An Nawawi mengatakan, “Imam Muslim dalam mencantumkan hadits-hadits dalam kitab karyanya Ash Shahih menempuh jalan yang sangat cermat, teliti dan wira’i dengan pengetahuan yang dalam di bidang hadits.”
Guru dan Murid Imam Muslim
Penyusun Shahih Muslim ini memiliki guru yang sangat banyak. Setiap kali rihlah di satu kota, ia berguru kepada banyak ulama di kota tersebut. Ia telah melakukan rihlah ke berbagai kota dan mendapatkan guru-guru terbaik dalam jumlah besar.
Berikut ini sebagian guru beliau:Di Khurasan: Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rawahaih, dll
Di Ray: Muhammad bin Mahran, Abu Ghassan, dll
Di Hijaz: Said bin Manshur, Abu Mush’ab, dll
Di Mesir: Amr bin Sawwad, Harmalah bin Yahya, dll
Ia juga berguru kepada Imam Bukhari Bahkan Imam Bukhari termasuk ulama yang paling berjasa dalam membentuk keilmuannya.
“Kalau tidak ada Imam Bukhari, Imam Muslim tidak akan bisa seperti ini dan tidak akan menghasilkan karya seperti Shahih Muslim ini,” kata Ad Daruquthni.
Imam Muslim juga berguru kepada sebagian gurunya Imam Bukhari. Karenanya tidak mengherankan jika sebagian hadits dalam kedua Shahih itu sama.
Sedangkan murid-muridnya, jumlahnya sangat banyak. Di antaranya adalah nama-nama besar sebagai berikut:
- Imam Tirmidzi
- Ibrahim bin Ishaq Ash Shairafi
- Ibrahim bin Abi Thalib
- Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah
- Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan Al Faqih
- Abu Hamid Ahmad bin Hamdun Al A’masyi
- Abu Al Fadhl Ahmad bin Salamah Al Hafizh
- Abu Amr Ahmad bin Nashr Al Khafaf Al Hafizh
- Abu Sa’id Hatim bin Ahmad
- Dll
Antara Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
Jumhur ulama sepakat bahwa Shahih Bukhari merupakan kitab paling shahih setelah Al Qur’an. Baru setelahnya adalah Shahih Muslim. Mereka sepakat bahwa Shahih Bukhari lebih unggul daripada Shahih Muslim.
Namun demikian, ada sebagian ulama yang lebih mengutamakan Shahih Muslim. Di antaranya adalah para ulama Maroko.
Al Hafizh Abu Ali An Naisaburi mengatakan, “Tidak ada kitab di kolong langit ini yang lebih shahih dibandingkan Shahih Muslim.”
Di antara keunggulan Shahih Muslim adalah sistematika penyusunannya. Satu hadits ditempatkan dengan berbagai macam sand dan aneka redaksi matannya. Sehingga orang yang mempelajarinya lebih cepat memahami dan mengambil manfaatnya.
Selain itu, ia sangat jeli membedakan haddastana dan akhbarana. Baginya, haddatsana tidak boleh digunakan kecuali seseorang mendengar hadits dari seorang Syaikh secara sendirian. Sedangkan akhbarana jika Syaikh mendiktekan hadits pada banyak orang.
Imam An nawawi mengakui keunggulan ilmu dan sistematika ini. “Melalui Shahih Muslim, dapat diketahui betapa kokoh keilmuan Imam Muslim. Sistematika yang tertib serta periwayatan hadits yang baik dan belum pernah ada sebelumnya adalah bukti nyata.”
Namun beliau meluruskan, meskipun ada keunggulan Shahih Muslim atas Shahih Bukhari, secara keseluruhan Shahih Bukhari tetap lebih unggul. Pertama, kriteria penerimaan hadits Imam Bukhari lebih ketat. Bagi Imam Bukhari, ‘an’anah bukan muttashil sebagaimana sami’tu kecuali terbukti bahwa kedua perawi pernah bertemu.
Kedua, Shahih Bukhari lebih shahih daripada Shahih Muslim sebagaimana pendapat jumhur ulama.
Ketiga, Imam Muslim adalah murid Imam Bukhari dan mengakui keunggulan gurunya. Beliau memilih hadits atas petunjuk Imam Bukhari. Baru setelah itu mengoreksi dan memilih hadits-hadits riwayatnya selama sekitar 16 tahun dari ribuan kitab hadits.
Karya Imam Muslim
Mungkin sebagian kita hanya mengetahui Shahih Muslim sebagai karya beliau. Padahal karyanya sangat banyak. Berikut ini sebagian karya beliau:
- Al Jami’ Ash Shahih (Shahih Muslim)
- Al Kuna wal Asma’
- Al Munfaradat wal Wihdan
- Rijal Urwah bin Az Zubair
- At Tamyiz
- Al Musnad Al Kabir ‘ala Ar Rijal
- Al Jami’ ‘alal Abwab
- Al Asma wal Kuna
- Auham Al Muhadditsin
- Thabaqatu At Tabi’in
- Al Mukhdharimin
- Al ‘Ilal
- Al Aqran
- Dll
Wafatnya Imam Muslim
Imam Muslim wafat pada usia 57 tahun. Sebelum wafat, beliau mengalami sakit perut setelah kelelahan dan makan kurma hadiah.
Kisahnya, sewaktu beliau mengajar, ada murid menanyakan sebuah hadits yang beliau belum mengetahuinya. Beliau lantas masuk kamar dan semalaman mencari hadits itu.
Saat meneliti hadits tersebut, beliau disuguhi kurma hadiah dari seseorang. Sambil meneliti semalaman, beliau menghabiskan satu per satu kurma tersebut.
Paginya, Imam Muslim menemukan hadits tersebut. Namun sejak saat itu beliau sakit perut. Sebagian ulama menyebutkan dua hal itu sebagai faktor penyebab sakitnya. Yakni kelelahan dan makan kurma tersebut.
Akhirnya Imam Muslim wafat pada Ahad petang, 4 Rajab 261 Hijriyah. Beliau dimakamkan keesokan harinya, 5 Rajab 261. Begitu banyak orang yang datang untuk turut sholat jenazah dan memakamkan. Beliau tiada, tapi ilmunya ‘abadi’ sepanjang masa. Pahala jariyah terus mengalir saat kaum muslimin terus mempelajari hadits dari Shahih Muslim karyanya.
Sumber:
https://www.beritasatu.com/ramadan/373456/syawal-bulan-peningkatan-amal
http://www.almuttaqienbalikpapan.com/macam-macam-puasa-sunnah-tathawwu/https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html
https://bersamadakwah.net/imam-muslim/
https://www.rctiplus.com/news/detail/405029/mengenal-imam-muslim-ulama-ahli-hadis-kelahiran-naisabur
