Guru Agama Islam Zaman Now Harus Metal

Tags

 Guru Agama Islam Zaman Now Harus Metal

Oleh : Asep Saepul Adha


Tahun 2023 ini akan diadakan kegiatan Pemetaan Kompetensi bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI)  se-Indonesia secara On-line (PK On-line). Kegiatan ini merupakan program dari Kementerian Agama Republik Indonesia dan menjadi bagian dari Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB). PPKB itu sendiri merupakan amanat regulasi yang harus dilakukan untuk peningkatan kompetensi guru PAI. Pelaksanaan PK On-line tahun ini merupakan pelaksanan kedua kalinya setelah yang pertama tahun 2018.

Dasar hukum pelaksanaan PK On-line ini adalah Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru, Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 211 Tahun 2011 tentang tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, dan Peraturan Menpan RB Nomor 1 tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional.

Saat memberikan arahan secara daring kepada para Kepala Bidang PAI/PAKIS/PENDIS dan PTP Kanwil Kemenag Provinsi serta Kepala Seksi Kemenag Kabupaten/Kota dalam keterangan resminya, Direktur PAI Kemenag Amrullah menjelaskan, melalui PK Online, peta dan profil kompetensi guru dapat diketahui untuk menentukan ketepatan dalam pelatihan yang akan diberikan nantinya.

Dalam akhir pengarahannya beliau menyampaikan : "Mudah-mudahan semua guru PAI mendapatkan layanan terbaik melalui bimtek atau pelatihan PPKB sesuai dengan kompetensinya masing-masing,”

Menilik pengarahan beliau, maka tujuan PK On-line ini tidak lain adalah agar mendapatkan 'peta kompetensi guru pendidikan agama Islam (GPAI) se-Indonesia' sehingga ke depan Kementerian Agama memiliki gambaran yang jelas tentang 'pelatihan-pelatihan apa saja yang diperlukan oleh GPAI'. Dengan melihat hasil PK On-line, diharapkan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan akan tepat sasaran, karena tepat 'inputnya/sasarannya' akan tepat juga tujuannya.

Pelatihan yang akan diikuti Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) akan ditentukan berdasarkan hasil PK On-line. Membaca kiriman kawan-kawan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) tentang grade hasil PK On-line yaitu bila :

  1. memiliki nilai akhir antara 91-100 berpotensi mengikuti seleksi Pelatih Nasional atau Provinsi,
  2. memiliki nilai akhir antara 81-90 berpeluang mengikuti seleksi Pelatih Daerah PPKB GPAI,
  3. memiliki nilai akhir 71-80 berpeluang mengikuti seleksi Pelatih Daerah PPKB GPAI,
  4. memiliki nilai akhir <70 prioritas Peserta Pelatihan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.

Maka tidak heran apabila para GPAI belajar dengan serius dengan harapan dapat mengikuti PK On-line dengan baik dan hasilnya memuaskan, syukur-syukur masuk katagori 'berpeluang menjadi pelatih'

Saya berharap, mudah-mudahan apa yang diharapkan kementerian agama dapat terwujud, artinya peserta pelatihan itu sesuai dengan kriteria itu, karena ada kawan saya pernah berkata "masa pak, peserta pelatihannya dari tahun ke tahun cuma itu-itu saja", bahkan katanya lagi "dia habis pelatihan tapi tidak bisa mengimbaskan kepada GPAI yang lain, karena dia nggak bisa mengoperasikan Laptop".

Guru zaman now (sekarang) seharusnya :

  1. orang METAL (Melek Digital), kalau tidak maka akan ketinggalan sama anak didiknya.
  2. senantiasa meng-update dan meng-upgrade ilmunya, karena ilmu berkembang setiap saat, ilmu yang didapat ketika di bangku kuliah, belum tentu cocok diterapkan di zaman milenial ini.
  3. rajin membaca buku-buku sumber referensi mata pelajaran yang diampu, tidak hanya membaca satu buku terbitan Kemendikbud atau Kemenag saja.
  4. rajin mengaji metode-metode belajar, sehingga ketika mengajar bisa memilih metode yang cocok (bukan metode yang baik, karena semua metode adalah baik) untuk diterapkan di kelasnya tempat dia mengajar, hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Alin bin Abi Tholib "khotibunnaasi 'alaa qodri 'uquulihim" خاطبوا الناس على قدر عقولهم

Intinya guru zaman sekarang harus melek Literasi. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh bapak Dr. Sadiman (tokoh Literasi Sumsel), baik pada kesempatan pelatihan atau lewat chanel YouTube nya.

Untuk bisa Metal (melek digital) seorang guru salah satunya harus memiliki komputer/laptop, tetapi kenyataannya banyak yang tidak memilikinya dengan alasan tidak bisa mengoperasikannya. Saya yakin dengan seyakin yakinnya bahwa semua guru bisa mengoperasikan komputer/laptop, hanya belum terbiasa saja. Yang biasa adalah mereka suka mengotak-atik 'handphone' atau yang lebih familiar dengan sebutan HP. Bukankah handphone juga menggunakan program komputer/laptop ???. Ingat, 'alah bisa karena biasa'.

Dari keempat yang harus ditempuh guru zaman now di atas, hampir semuanya harus memiliki akses internet (termasuk pelaksanaan PK On-line). Inilah yang menjadi masalah, karena belum semua daerah memiliki akses internet, terutama daerah-daerah nun jauh dari perkotaan. Janganlah berbicara daerah pegunungan atau lembah pedalaman, kadang-kadang daerah pinggiran saja (tidak jauh dari kita) signalnya masih angin-anginan. Itulah sebabnya, Kantor Kementerian Agama Kabupaten banyak yang berinisiatif untuk menyelenggarakan PK On-linenya pada satu titik, dengan alasan untuk menghindari kurang baiknya signal sesuai dengan Lampiran 1 surat Direktur Pendidikan Agama Islam point ke 6 “Mempertimbangkan kekuatan sinyal jaringan internet dan kecukupan ruangan (jika terpusat dalam satu lokasi)”

Sebagai seorang guru (GPAI), kita disarankan agar segalanya serba On-line (absen, laporan, pengumpulan berkas, penilaian, Ulangan dianjurkan memakai google formulir) namun fasilitas untuk on-line belum tersedia semuanya. Bahkan fasilitas dasar agar bisa on-line yaitu signal saja belum merata ke semua pelosok negeri, karena Tower Provider belum merata (untuk membangun satu Tower kabarnya perlu dana 'em em an'), sehingga tidak heran ketika Ujian Sekolah yang harus On-line tidak berjalan dengan lancar karena Signalnya, ada yang GSM (Geser Sedikit Mati) ada juga yang CDMA (Cuma Muter-muter Doang Aja). Belum lagi pas Ujian berlangsung PLN mematikan Arus listriknya dengan alasan bergantian, tambah pusing kan. Ujung-ujungnya 'kemampuan dan kemauan' kita tidak sejalan (kata orang Palembang "tidak setulu'an) akhirnya hasil karya kita tersimpan di musium Laptop kita, kalau nasib sial kena virus, hilang deh.

Kata Founder Komunitas Asep Urang Sunda Asli Kuningan For NKRI (KAUSAKu 4NKRI) Kang Asep Gunawan 'simpannya di awan' maksudnya simpan di Drive Google, leres pisan eta teh gampang upami sinyalna sae mah (hahahaha, pan GSM).

Akhirnya saya berharap agar 'kebijakan yang diambil' sesuai dengan keadaan di lapangan dan daerah, jadi ucapan Ali bin Abi Thalib خاطبوا الناس على قدر عقولهم  (khotibunnaasi 'alaa qodri 'uquulihim) berlaku juga.

#salam literasi#


Sebuah Komunitas Belajar, Berkarya dan Berbagi Manfaat bagi Ummat.
0896-5422-30-30