METAMORFOSIS RAMADHAN By: Yusri

Tags






 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Metamorfosis adalah istilah yang sering digunakan untuk pembahasan tentang perkembangan biologis hewan. Pengertian metamorfosis sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perubahan bentuk, susunan, atau peralihan bentuk yang dialami oleh hewan.

Metamorfosis adalah perubahan ukuran, bentuk, dan bagian- bagian tubuh hewan dari satu stadium ke stadium berikutnya. Metamorfosis merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan hewan, khususnya pada serangga dan amfibi. Contoh hewan yang mengalami metamorfosis adalah kupu-kupu, katak, kecoa, nyamuk, dan capung. Saat hewan mengalami metamorfosis, terjadi perubahan penampilan fisik dan struktur setelah kelahiran atau penetasan. Ini berarti bentuk tubuh hewan pada saat dewasa sangat berbeda dari bentuk tubuhnya saat lahir. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan diferensiasi sel atau proses yang terlihat dalam organisme multisel yang secara radikal berbeda. 

Kalau melihat bentuk kupu-kupu yang braneka rona maka kita akan merasa takjub akan indahnya karya Sang pencipta. Tapi kita tahu bahwa untuk sampai kepada bentuk yang sempurna dan terbang bebas dengan pesonanya yang sangat memukau itu butuh proses yang sangat menyakitkan dan melelahkan bagi kupu-kupu. 

Itulah maksud dari metamorfosis Ramadhan yang saya tulis.

Salahsatu tujuan diwajibkannya puasa adalah untuk membentuk pribadi takwa. Sebagaimana tersurat dalam firman-Nya:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2: ayat 183).

Puasa termasuk ibadah yang paling bagus. Dan yang paling dekat kepada Allah. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, (1904) dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

( قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا : إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ )

“Allah Ta’ala berfirman, “Semua amalan bani adam untuk dirinya kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan memberi pahalanya. Puasa itu tameng. Kalau berpuasa salah satu diantara kamu, maka jangan berkata buruk dan jangan berkata keras. Kalau ada salah seorang yang menghina atau menghardiknya. Maka katakanlah kepadanya ‘Saya sedang berpuasa. Demi jiwa Muhammad yang ada ditangan-Nya. Bau mulut orang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah dibandingkan dengan minyak wangi kasturi. Bagi orang puasa ada dua kegembiraan. Gembira ketika berbuka dan bergembira ketika bertemu dengan Tuhannya dengan puasanya.

Ini dalil yang jelas akan kedudukan dan agungnya berpuasa. Terkait dengan keutamaan dan balasan yang bagus. Syekh Ibnu Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini dua pahala, cepat dan lambat. Yang cepat Nampak ketika orang puasa sedang berbuka. Gembira dengan nikmat Allah kepadanya dengan menyempurnakan puasanya. Gembira mendapatkan syahwat yang ditahan sewaktu siang hari. Sementara yang lambat, kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya dengan keridhaan dan kemulyaan-Nya. Kegembiraan yang dekat contoh dari kegembiraan yang lambat. Dan Allah menjadikan keduanya untuk orang yang berpuasa.

Di dalam (hadits) mengisyaratkan bahwa orang puasa ketika sudah mendekati berbuka, mendapatkan kegembiraan ini. Sebagai balasan yang telah dia lewati di siang hari kepayahan meninggalkan syahwat. Dan ini termasuk sebagai penyemangat dan kekuatan (baru) untuk melakukan kebaikan.” Selesai dari ‘Bahjatu Qulubil Abrar, (96) silahkan dilihat juga ‘Fahul Bari, karangan Ibnu Hajar, (4/118).

Oleh Karena itu seorang muslim yang mendapatkan kepayahan berpuasa yang dia rasakan, akan bergembira waktu berbuka. Bukan dengan hilangnya kepayahan. Akan tetapi karena Allah Ta’ala membantu untuk dapat menahan kepayahan dan menyempurnakan ketaatan kepada-Nya subhanahu wata’ala. Membantunya bukan menghilangkan kepayahan, akan tetapi agar dapat menyempurnakan ketaatan. Dalam hadits yang shoheh dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

( أَتُحِبُّونَ أَنْ تَجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ ؟ قُولُوا اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

 ) رواه أحمد (7922) وصححه الألباني في "الصحيحة" (844)

“Apakah anda semua senang bersemangat dalam berdoa? Katakanlah doa ini, “Ya Allah, tolong bantu kami untuk (dapat) mensyukuri-Mu, mengingat-Mu dan kebaikan dalam beribadah.” HR. Ahmad, (7922) dinyatakan shoheh Al-Albany dalam As-Shohehah, (844).

Hampir saja tidak anda dapati orang yang sesak dadanya dengan bulan yang penuh barokah ini melainkan dia orang yang cinta dunia, tenggelam dalam hawa nafsu dan kesenangannya. Sehingga dia tidak menyukai dan ingin menjauh darinya.

Yang mendapatkan kepayahan dan keletihan disebabkan puasa itu satu diantara dua orang. Orang yang punya uzur atau sakit, safar atau semisalnya. Sehingga dia mendapatkan keringanan Allah untuk berbuka. Atau orang yang mendapatkan kepayahan yang dia rasakan sehingga dia dapat menyempurnakan puasanya. Sabar terhadap kepayahan ini karena mencari keridhaan Allah. Sementara orang yang mendapatkan kepayahan, kemudian tidak menyukai puasa dan berharap agar cepat selesai bulan (Ramadan) dan tidak datang lagi. Kondisi seperti ini tidak diragukan lagi tidak diridhoi. Jiwa seperti ini tidak menyukai ibadah. Dan tidak sabar terhadap perintah Allah.

Dengan mentaati rambu-rambu puasa, maka segala hawa nafsu duniawi kita terbelenggu baik yang berhubungan dengan anggota fisik atau lahiriyah maupun secara bathiniyah. 

Pesan Rasulullah SAW kepada salah satu sahabatnya, Abu Dzar al-Gifari, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul 'Ibad:

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ 

"Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam; ambilah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh; ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti."

Namun, seiring waktu, selepas 7 hari ketiga, semangat bisa jadi mengendur. Spirit ibadah mulai terpengaruh kondisi tubuh yang telah menyesuaikan dengan metabolism saat berpuasa. Akibatnya, lebih enjoy untuk menghabiskan waktu dalam lelap tidur daripada beribadah.

Karena itu, diperlukan tambahan semangat agar tidak loyo beribadah di bulan suci ini. Apalagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, ketika Allah SWT banyak sekali memberikan berkah dan ampunan bagi hambanya yang optimal beribadah. Yuk, simak tips-tips berikut untuk menjaga semangat beribadah.

1) Berkumpul dengan teman-teman satu jalur

Biasanya, kalau energi kita mulai melemah bertemu dengan orang-orang yang full charged energy, semangatnya kan menulari kita. Melihat bagaimana teman-teman yang bersemangat dan ruhiyah bagus pasti akan bikin kita ikut semangat. Berdiskusi dan menemukan cara mereka untuk tetap konsisten menjalani hari-hari Ramadhan bisa menjadi salah satu teknik charging ruhiyah kita. Berkumpul dengan orang salih.

2) Menghadiri majelis ilmu

Bulan Ramadhan, makin banyak tempat-tempat pengajian yang bisa kita ikuti. Rajin-rajin saja sholat jamaah di masjid, ini menjadi salah satu cara paling efektif menemukan majelis ilmu. Menghadiri halaqah atau taklim yang diadakan di masjid akan membuat kita terus semangat beribadah Ramadhan. Di televisi  nonton acara siraman ruhani akan membantu kita yang ingin menaikkan lagi semangat ibadah yang sempat turun.

3) Memanfaatkan waktu luang

Waktu luang Ramadhan bisa kita manfaatkan untuk membaca buku agama dan tilawah. Biasanya kalau kebanyakan waktu terbuang untuk ngobrol nggak jelas, semangat ibadah jadi turun. Atau waktu kita untuk baca Al Qur’an jadi kehabisan. Kalau waktu kita sudah efektif, lebih mudah mengatur waktu luang untuk ibadah.

4) Stay fit dengan makanan sehat dan gizi seimbang

Ternyata makanan mempengaruhi semangat kita beribadah. Kalau kita makan sahurnya kurang, jadi lemes. Kalau kebanyakan, jadi bawaannya ngantuk melulu. Baiknya secukupnya saja, dan seimbangkan jumlah karbo, protein dan airnya. Intinya,sesuaikan dengan kondisi tubuh. Pilih yang awet kenyangnya dan membuat tubuh fit. Kalau badan segar, pasti ibadah akan semangat.

Semoga dengan meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga kualitas shaum dan memelihara stabilitas jasmani dan ruhani kita selama bulan Ramadhan, proses metamorfosis kita berujung indah dan bisa mencapai derajat takwa layaknya kupu-kupu indah yang elok, indah dipandang mata dan menebarkan pesona menarik sebagai cerminan jiwa takwa penghuni surga, aamiin allaahumma aamiin.

والله اعلم بالصواب#spirit menyambut berkah di sepuluh malam terakhir Ramadan

Yusri, Smd

Sebuah Komunitas Belajar, Berkarya dan Berbagi Manfaat bagi Ummat.
0896-5422-30-30