DAKWAH MASA KINI
Oleh : Asep Saepul Adha
Dakwah
merupakan interaksi antara dua pihak yaitu orang yang menyampaikan dakwah dan
pihak yang menerima dakwah.
Dakwah juga berarti kegiatan penyampaian informasi berupa ide, gagasan, pengetahuan dan lain lain. Keberhasilan dakwah perlu didukung adanya cara (metode) dan sarana yang tepat. Kalau cara (metode) dan sarananya tepat hasilnya akan maksimal, itulah yang dimaksud imam Ali dengan kalimat
خاطبوا الناس على قدر عقولهم
"Khotibu
an-naasi 'ala Qodri uqulihim".
Kalau sasarannya orang yang berpendidikan maka berbicara dengan bahasa ilmiah (berat) pun nggak masalah, tapi kalau berbicara kepada masyarakat biasa maka bahasa yang digunakan jangan terlalu tinggi (berat) gunakan bahasa yang familiar dan tidak perlu berpikir.
Dalam berdakwah misalnya, seorang Kiai atau Penceramah harus mempertimbangkan mustami'nya, jangan disamaratakan. Berdakwah di lingkungan (ber)pendidikan berbeda dengan berdakwah di lingkungan masyarakat biasa.
Berdakwah di jaman sekarang banyak fasilitas yang bisa digunakan, baik yang dunia nyata (berhadapan langsung dengan mustami') atau dunia maya. Yang dunia maya, Kiai atau Penceramah dapat menggunakan berbagai macam aplikasi yang tersedia misalnya YouTube, WhatsApp, Instagram, Messenger, Twitter, Tiktok, Googlemeet, dan lain-lain.
Jika
boleh membandingkan, jaman sekarang ini lebih berhasil dakwah yang dilakukan
lewat dunia maya dari pada dunia nyata (berhadapan langsung dengan mustami')
Sekarang ada fenomena yang baru dalam berdakwah, yaitu :
- Kalau dakwahnya dilakukan lewat media internet (baik on-line maupun offline) maka cepat diserap oleh mustami' dan musyahid (netizen bahasa sekarang)
- Kalau disampaikan langsung di masjid atau di lapangan belum tentu masuk di hati mustami', apalagi kalau Kiai atau Penceramahnya serius menyampaikan materi ceramahnya tidak diselingi guyonan (humor) maka dijamin materinya nggak masuk ke hati mustami' karena mustami'nya ngantuk dan dijamin pula bahwa Kiayi atau Penceramah tersebut tidak akan dipanggil kembali ke masjid daerah itu (hehehe). Tapi kalau ceramahnya diselingi guyonan (humor) maka mustami' akan senang dan tak berhenti tertawa, dan materinya belum tentu dapat diterima mustami' karena mustami'nya terlena dengan guyonannya dan saya berani jamin bahwa kegiatan berikutnya Kiai atau Penceramah tersebut akan dipanggil kembali (hehehe).
Materi (ceramah) tidak melulu hanya disampaikan lewat pidato, tapi materi juga bisa disampaikan lewat tulisan. Tulisan akan lebih bermakna bagi orang yang (maaf) tuli.
Dan
menulis ilmu itu adalah anjuran dari imam Asy Syafi'i,
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ
* قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً
وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Artinya : "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat, termasuk kebodohan kalau engkau berburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja (Diwan Asy-Syafi’i)
Artinya
agar ilmu itu melekat maka harus ditulis.
Dalam hal dunia tulis menulis, ada seorang penulis yang telah lama bergelut dengan dunia tulis menulis, beliau mengarang buku, menulis artikel, menulis di Jurnal (ilmiah) dan lain-lain. Beliau telah bertahun-tahun berjibaku dalam menulis (istilah beliau "saat gila menulis"), sudah tiga tahun ini beliau menyadari bahwa karyanya masih kalah sama murid TK atau MI. Begini penuturan beliau yang beliau tulis di WA Grup (tulisannya asli, tidak saya rubah, hanya digabungkan saja).
"Yang mau saya sampaikan adalah sebanyak dan sebagus apapun tulisan saya. Nilainya kalah jauh dengan anak TK atau MI yg hanya menulis 7 baris atau 7 kalimat dalam surah Al-fatihah, Atau 1 tulisan sholawat yg sangat pendek. Saya sangat cemburu dengan anak-anak tersebut apalagi bapa/ibu gurunya. Saya benar-benar kalah jauh. Itu hikmah saya gila menulis dan baru menyadarinya 3 tahun belakangan ini. Kalau boleh berpesan ya sahabat-sahabat.....
Saat
kita menulis tentu aktivitas pikir atau otak dan jari sangat dominan. Bersamaan
dengan itu basahi lidah dan bibir dengan sholawat, minimal dendangkan lagu sholawat atau
kumandangkan surah-surah dalam Al-Qur'an lewat YouTube atau lainnya."
Saya jadi ingat sabda nabi berikut ;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئً
Artinya: "Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, dan Ibnu Hujr telah menyampaikan hadis
kepada kami. Mereka berkata bahwa Isma’il, yakni Ibnu Ja’far, mendapat hadis
dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abi Hurairah RA. bahwa sesungguhnya
Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa saja yang mengajak kepada petunjuk
(kebenaran), maka baginya pahala (kebaikan) seperti pahala orang yang
mengikutinya dan itu tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka yang
mengikutinya. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan (keburukan),
baginya menanggung dosanya seperti dosa orang yang mengikutinya. Itu tidak
mengurangi sedikitpun dari dosa mereka yang mengikutinya”. (HR. Muslim)
Hikmahnya dari ungkapan beliau dan berdasarkan hadits di atas, kalau menulis harus yang baik-baik (soleh) jangan menulis yang jelek (salah) karena dibelakangnya diikuti orang. Kita hindari dosa jariah dan kejar pahala jariyah.
