MUHASABAH
Oleh : Asep Saepul Adha
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
adakanlah perhitungan kepada dirimu sebelum kamu diperhitungkan kelak
Kalimat
tersebut di atas adalah ungkapan yang dinisbatkan kepada 'Umar bin Khattab r.a.
Dari ungkapan itu muncullah istilah muhasabah. Kata muhasabah secara etimologi
berarti menghitung, mengoreksi, dan mengevaluasi bahkan dapat juga diartikan
introspeksi
Istilah
muhasabah secara tidak langsung ditemukan di dalam Al-qur’an dan Hadits. Dalam
QS Al Hasr/59 : 18, Allah berfirman :
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا
اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَؕ
اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk
hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr [59]: 18)
Di
awal tahun 2024 ini mari kita lakukan muhasabah (introspeksi dan evaluasi) amal
ibadah kita. Apa yang perlu dihisab atau dievaluasi, tentu amal ibadah. Karena
pahala dari amal ibadah kita yang akan dipetik hasilnya nanti di kampung
akhirat.
Amal
Amal
adalah perbuatan kita sehari-hari. Sebagai manusia, tentu tidak selamanya
berperilaku lurus ada kalanya melenceng. Kalau lurus terus (taat kepada
Allah) itu malaikat dan kalau melenceng terus (ingkar kepada Allah) itu setan.
Manusia yang baik adalah manusia yang apabila melakukan kesalahan ia cepat
bertobat. Perbuatan kita sehari-hari diawasi sekaligus dicatat oleh dua orang
Malaikat, yaitu Raqib dan 'Atid. Roqib mencatat amal sholeh sedangkan 'Atid
mencatat amal salah.
Sebagai
motivasi bagi kita, dijelaskan bahwa bila seseorang berniat mau melaksanakan
kebaikan (baca : amal sholeh) malaikat Raqib sudah mencatatnya sebagai satu
kebaikan, dan bila niat itu kemudian dilaksanakan maka akan dicatat sebagai
sepuluh kebaikan. Sebaliknya bila seseorang berniat melakukan kejahatan
malaikat belum mencatatnya, bila niat itu tidak dilaksanakan maka ia akan
mendapat pahala satu kebaikan, namun apabila melaksanakan niat tersebut maka
dia hanya dicatat melakukan satu kesalahan. Hal ini dijelaskan dalam Hadits
Arbain nomor 37 berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ -فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ
الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ
يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا
كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ
كَثِيْرَة.وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً
كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» رَوَاهُ
البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ فِي صَحِيْحَيْهِمَا بِهَذِهِ الحُرُوْفِ
Artinya :
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan
dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis
kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa
yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis
itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat
mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai
sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak. Jika
dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah
menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia
berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai
satu keburukan.” (HR.
Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz
ini).
Amal
baik terhadap sesama manusia, disebut hablum minannaas. Di sinilah kita perlu
melakukan muhasabah atau evaluasi, apakah hubungan sosial kita sudah bagus
selama setahun yang lalu, bila jawabannya 'ya' maka di tahun yang akan datang
harus kita tingkatkan dan bila sebaliknya alias kurang bagus, maka kita harus
perbaiki.
Dalam
melakukan hablum minannaas, kita jangan mencari like dan menghindari dislike
nya manusia, sebab walaupun manusia tidak suka (dislike) tapi kalau Allah suka
(like), siapa yang bisa menghalangi atau menggagalkan.
Dalam
hubungan sosial (hablum minannnaas), sudah seberapakah kebermanfaatan kita di
keluarga dan masyarakat. Apakah kita di masyarakat menjadi ‘propokator’ (da’i)
kebaikan atau malah menjadi ‘biang kerok’ ? Kalau kita jadi ‘propokator’ (da’i)
kebaikan, sudah seberapa kemanfaatan kita, bukankan manusia terbaik adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya ? sebagaimana hadits yang diriwayatkan
oleh Iman Ahmad, Nabi bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya :
Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat untuk orang lain. (HR.
Ath-Thabari dalam al-Mu'jam al-Awsath VI/58. Syaikh al-Albani menyatakan hasan
dalam ash-Shahihah no. 426.)
Yang
dapat bermanfaat bagi orang lain diantaranya ilmu, harta dan kedudukan atau
jabatan. Bila hasil muhasabah, kita ternyata ilmu kita masih kurang bermanfaat
bagi manusia yang lain, maka di tahun yang akan datang mari kita tingkatkan
kebermanfaatan ilmu kita, dan bila ternyata harta kita masih kurang bermanfaat
maka di tahun mendatang kita lebih banyak infaq dan sedekahnya. Serta jabatan
yang kita sandang sekarang bila masih cenderung menjadi ‘biang kerok’ di masyarakat,
maka di tahun depan harus dikurangi bahkan dihilangkan.
Ibadah
Bagaimana
dengan ibadah kita, sudahkah sesuai dengan tuntunan Nabi dan Rasul Allah ? Ketika dilontarkan pertanyaan ini sebagian orang mengatakan “tidak mungkin
ibadah kita mirip seperti yang dilakukan Rasul, karena kita nggak sezaman
dengan beliau sehingga kita tidak dapat melihat bagaimana Rasul beribadah”.
Jawaban
atau ungkapan ini (mungkin) benar, namun bukankah ada penerus Nabi yang bisa
menyampaikan dan menjelaskan hadits tentang Ibadah dan akhlak Nabi. Dari
penjelasan mereka inilah kita akan memahami bagaimana ibadah Nabi, dari ibadah
mahdoh juga ghoir mahdoh, dari ibadah sunah sampai ibadah wajib. Dan dari penjelasan
mereka pula kita akan mengetahui bagaimana akhlak rasul.
Yang
jadi masalah adalah, orang kadang nggak menerima penjelasan (hadits/Al Qur'an)
yang disampaikan oleh ulama atau kiayi yang bukan dari golongan atau mdzhabnya.
Bukankah ulama itu ahli waris nabi ?
Asal yang disampaikan itu
hadits shahih, kenapa nggak diterima ?
Kata pepatah :
اُنْظُرْ مَا قِيْلَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
Artinya :
"lihatlah apa yang disampaikan, dan jangan
melihat siapa yang menyampaikan"
Pepatah
ini mengajarkan kepada kita agar melihat dan memperhatikan apa yang dikatakan
atau disampaikan, bukan melihat siapa yang mengatakan atau menyampaikannya.
Dalam
melaksanakan ibadah, kita tidak akan seperti para sahabat Rasulullah, para
sabar langsung dibimbing oleh rasul, sementara kita jauh berada dizaman setelah
mereka.
Mereka (para sahabat) ketika ayat Qur'an turun langsung
menghafalkan dan mengamalkan Al Qur'an tersebut ayat demi ayat dibawah
bimbingan rasul selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Mereka lebih faham maksud Al
Qur'an karena Qur'an berbahasa mereka sendiri. Sementara kita, tahunya sudah
jadi 30 juz itu dan bahasanya bukan bahasa kita, jadi untuk menghafal dan
mengamalkannya perlu usaha keras.
Ada yang mengatakan bahwa kalau cuma menghafal,
dalam waktu 3 tahun kita bisa hafal Al-Qur'an, tapi kalau untuk mengamalkannya
belum tentu bisa.
Bagi kita, sudah rutin (Istiqomah) membaca Al quran
setiap hari saja sudah untung, namun kita kadang malas. Padahal dijanjikan,
bila kita membaca Al Qur'an akan diberi pahala sesuai dengan jumlah huruf Al
Qur'an yang kita baca.
Rasulullah Saw bersabda:
عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ،
وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Artinya:
"Dari Abdullah Ibnu Mas‘ud, Rasulullah Saw
bersabda, "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah
(Al-Qur'an), maka dia akan memperoleh satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan
dilipatkan dengan sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim
(sebagai) satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mim
satu huruf," (HR.
At-Tirmidzi: 2835).
Muhasabah
kita dalam hal ini, sudahkah kita rutin membaca Al Qur'an kalau belum ayo kita
rutinkan (Istiqomah) membaca Al Qur'an, jangan kalah dengan membaca WA, FB, IG
dan Twitter.